Gia bangun di pagi hari merasakan hal yang tidak biasanya dia rasakan. Kepalanya berdenyut pening, dan sebuah gejolak mual yang teramat pekat mendadak mendesak naik dari ulu hatinya, merusak sirkulasi energinya dalam sekejap. Dengan gerakan aksi yang refleks, dia menyingkirkan selimut tebal mereka, berjalan dengan cepat ke kamar mandi, dan memuntahkan cairan kuning pekat dengan perut yang cukup membuatnya tidak enak di atas wastafel porselen.Tubuhnya gemetar, kedua tangannya mencengkeram erat sisian wastafel untuk menumpu bobot tubuhnya yang mendadak lemas.Marco yang melihatnya dari ambang pintu langsung panik. Pria itu melangkah lebar, mengabaikan denyut perih pada luka tembak di perut kirinya sendiri demi bisa menahan bahu Gia."Gia! Apa kau baik-baik saja? Apa yang terjadi padamu, hm?" tanya Marco, suara baritonnya meninggi oleh kepanikan domestik yang nyata. Tangan kirinya bergerak cepat memijat tengkuk Gia yang meremang dingin.Gia menyeka bibirnya dengan punggung tangan, nap
Read more