Padahal hari masih siang bolong, tetapi kengerian terasa begitu pekat bergulung di tempat itu. Suasana terasa sangat suram dan gelap karena kanopi pohon-pohon hutan yang tumbuh terlalu rapat, menghalangi cahaya matahari untuk menyentuh tanah. “Kang, pulang aja, yuk. Di sini enggak ada apa-apa.” Anis memeluk lengannya sendiri. Hawa ngeri itu kian memberati tengkuknya, membuat kepalanya mendadak pening. “Tapi kita belum menemukan rumah Nyi Damar,” sahut Karta dengan nada suara yang mulai bergetar putus asa. “Siapa tahu ... rumah Nyi Damar yang kita datangi tempo hari memang enggak pernah ada, Kang. Itu cuma ilusi,” bisik Anis ketakutan.
Baca selengkapnya