"Jangan menoleh, Alana. Masuk kembali ke halaman rumah," perintah Aksa, suaranya terdengar sangat rendah dan dingin di tengah keheningan malam. "Tapi mereka... mereka bawa sesuatu, Mas," bisik Alana, tangannya gemetar hebat saat meremas lengan kemeja Aksa. Aksa segera menarik tubuh Alana ke belakang punggung tegapnya, mengunci pandangan tajamnya pada dua orang bermotor di seberang jalan. Namun, bukannya menyerang, pengendara motor itu justru menggeber mesinnya dengan keras sekali sebelum akhirnya berbalik arah dan melesat pergi membelah kegelapan malam. Itu murni teror mental. "Mereka cuma mau menakut-nakuti kita," ucap Aksa, mengembuskan napas panjang sembari memeriksa draf map hitam di tangan kanannya. "Ardiansyah tahu kita mencari sesuatu di sini. Hubungi sopir keluarga, kita pulang pakai mobil lain." Keesokan paginya, teror yang sesungguhnya baru saja dimulai di area kampus. Bukan berupa ancaman fisik di jalanan sepi, melainkan pembunuhan
Baca selengkapnya