Di alun-alun Istana Kerajaan Jayantara, lima ratus prajurit berkuda telah berbaris dengan rapi. Panji-panji kerajaan berkibar gagah diterpa angin, sementara deretan tombak dan baju zirah memantulkan cahaya matahari pagi. Di barisan paling depan, Jenderal Rangga Tirta berdiri tegak di atas kudanya. Di hadapannya, Maharaja Jayawardhana, Patih Wiranegara, serta para petinggi kerajaan telah bersiap memberikan restu sebelum seluruh pasukan berangkat menuju medan perang."Demi restu alam semesta dan para leluhur yang bersemayam di puncak-puncak gunung," seru Maharaja Jayawardhana dengan suara menggema ke seluruh alun-alun. "Aku, Maharaja Jayawardhana, merestui keberangkatan kalian menuju medan perang. Kembalilah sebagai pemenang, atau gugurlah sebagai pahlawan yang namanya terpahat abadi di langit tertinggi. Jangan kembali sebelum musuh bertekuk lutut, atau darah kalian menyatu dengan tanah!" Tatapannya menyala penuh wibawa, membakar semangat setiap prajurit yang mendengarnya."Hamba seti
Read more