Aroma pekat kopi Arabika dan mentega panggang menguar memenuhi ruang makan mewah pagi itu, berpadu dengan denting halus porselen berlogo pelat emas. Di balik meja marmer panjang, Marcel dan Irene duduk berdekatan, saling melempar senyum dan obrolan mesra seolah dunia hanya milik mereka berdua. Atmosfir domestik yang hangat sengaja dibangun, sementara barisan pelayan bergerak tanpa suara, mengantarkan menu demi menu sarapan bergaya kontinental ke atas meja.Keheningan yang teratur itu sedikit bergeser saat Ben muncul sebagai orang pertama. Pria itu melangkah tegap, sudah mengenakan setelan jas potongan rapi yang membingkai sempurna tubuh atletisnya. Wajahnya lurus, tanpa ekspresi, mengabaikan segala bentuk basa-basi visual saat berjalan mendekat.“Selamat pagi, Sayang,” sapa Irene, suaranya mengalun manis penuh perhatian.Ben hanya menanggapi dengan anggukan singkat yang nyaris tak terlihat—sebuah gestur dingin yang menandakan batas toleransinya terhadap obrolan pagi. Tanpa suara, dia m
Read more