Blaire mencoba mengontrol pasokan udara yang masuk ke paru-parunya yang terasa menyempit, berpacu dengan detak jantungnya yang berdentum bertalu-talu di balik rongga dada. Kedua kakinya terus berlari panik, membawanya menjauh secepat mungkin dari area dapur yang mendadak terasa mencekam dan menyesakkan. Di ujung lorong, suara langkah kaki dan panggilan Irene terdengar makin dekat. Itu adalah bukti otentik bahwa sang ibu tengah menuju ke arahnya. Jelas tak mungkin, bahkan terlalu berisiko, jika dia muncul di hadapan wanita itu dalam keadaan sekacau dan semencurigakan ini—dengan napas memburu dan bibir yang mungkin masih menyisakan jejak sengatan yang tertinggal.“Blaire! Kau—oh, Sayang, kau rupanya di sini.”Benar saja, Irene langsung mengenalinya begitu Blaire memotong sudut lorong dan muncul di ruangan yang sama. Langkah Irene terhenti, sepasang matanya memindai figur putrinya.“Ugh, hai, Mom,” sapa Blaire.Setengah mati dia berusaha sekuat tenaga mengembangkan senyum tipis, menyusun
Baca selengkapnya