[ Masih di mana, Teh? Di rumah ada tamu dari kampung. Saya lupa siapa namanya, tapi mereka lumayan sering mampir. ] Pesan dari Mirna memaksaku untuk pulang cepat, padahal tadinya aku berniat untuk menghabiskan waktu di rumah Entin, dan pulang menjelang maghrib. Tanpa perlu bertanya sebenarnya aku tahu siapa yang datang. Seperti yang Mirna katakan, mereka lumayan sering datang sejak tanpa sengaja aku dan Kang Epen persilakan, kala itu. Banyak alasan mereka datang mengunjungi. Mulai dari memperpanjang tali silaturahmi, mengeluh tentang ekonomi, hingga memelas tentang utang yang tak mampu mereka lunasi. Beruntung Tuhan memberiku titipan harta lewat suami, entah bagaimana kalau semua itu aku dapatkan sendiri. Sikap pongah mungkin akan mendominasi mengingat bagaimana perlakuan orang-orang ini pada keluargaku dulu. "Assalamualaikum," salamku pada kedua orang yang menggendong masing-masing bayi laki-laki berusia 14 bulan di pangkuan. "Waalaikumsallam, eh udah dateng keponaka
Read more