Malam setelah menemukan map milik Ceu Epon di mobil Kang Epen, aku tidak langsung menanyakannya. Berkali-kali jemariku gatal ingin membuka percakapan, berkali-kali pula keberanian itu menguap sebelum sempat keluar menjadi suara. Entah sejak kapan aku mulai takut pada kemungkinan jawaban yang akan kudapatkan. Aku berbaring menyamping menghadap jendela kamar. Langit malam tampak gelap tanpa bintang. Sesekali lampu kendaraan melintas di jalan depan rumah dan meninggalkan pantulan cahaya yang bergerak perlahan di langit-langit kamar. Di sampingku, sisi tempat tidur Kang Epen kembali kosong. Sprei yang biasanya kusut karena tubuhnya bahkan masih terlihat rapi seperti belum pernah disentuh sejak pagi. Pemandangan itu seharusnya tidak asing bagiku. Sejak awal mengenalnya, Kang Epen memang bukan lelaki yang memiliki banyak waktu luang. Dia terbiasa hidup di antara rapat, proyek, perjalanan bisnis, dan tumpukan pekerjaan yang seolah tak pernah habis. Namun entah kenapa, beberapa mingg
Read more