Aldwin menatap Daisha lama, lalu senyumnya melebar perlahan. Sorot matanya tenang.“Nomor satu,” ulang Aldwin pelan. “Kau tahu, siapa pemilik nomor satu di akademi ini? Itu milikku.”Daisha tidak menjawab. Ia masih mempertahankan pandangannya pada Aldwin. Ia tidak akan menarik ucapannya.“Jika kau menjadi nomor satu,” lanjut Aldwin, “itu artinya kau menggeserku dari posisi yang sudah aku pertahankan sejak awal masuk akademi ini.”“Saya tahu, Yang Mulia.”Aldwin mengangguk pelan. Setelah mendengarnya, Aldwin sama sekali tidak merasa terancam. Ia ingin tahu, sejauh mana Daisha bisa menepi ucapannya.“Baiklah,” kata Aldwin akhirnya. “Aku mengizinkanmu mencoba.”Wajah Daisha sedikit berbinar mendengarnya, namun belum sempat ia tersenyum lebih lebar, Aldwin sudah melanjutkan ucapannya.“Tapi kau harus tahu konsekuensinya.” Suara Aldwin kembali menajam. “Menjadi nomor satu, menjadi terlalu menonjol, akan membuatmu menjadi pusat perhatian banyak orang. Bukan hanya pujian yang akan kau dapatk
Mehr lesen