Tabib tua itu dengan sangat hati-hati meletakkan bayi yang masih menangis pelan itu di atas dada Meghan. Begitu kulit mungil yang hangat itu menyentuh dadanya, tangis sang bayi perlahan mereda menjadi rengkuhan kecil yang mencari perlindungan.Meghan secara refleks melingkarkan lengannya yang masih gemetar, mendekap putranya erat-erat. Air matanya luruh kian deras.Kali ini rasa sakitnya telah menguap sepenuhnya, digantikan oleh kehangatan luar biasa yang menjalar di seluruh rongga dadanya."Dia ... dia sangat tampan, Paduka," bisik Meghan parau, suaranya nyaris habis, matanya tak mampu beralih dari wajah kemerahan sang bayi.Ralph ikut bergeser, duduk di tepi ranjang tepat di sisi Meghan. Lengan besarnya melingkari bahu Meghan, menarik wanita itu dan bayi mereka ke dalam dekapannya. Pria itu menunduk, menatap lekat-lekat jemari kecil putranya yang bergerak samar memeluk kain pembungkus."Dia memiliki matamu, Meghan," gumam Ralph, suaranya rendah dan sarat akan kepemilikan. Ada ke
Baca selengkapnya