"Sakit gak?""Bengkak kali. Buruan periksa.""Emoh. Sudah pasti bengkak. Kan dia bangun."Luna menggeser tubuhnya, menjauhi Alfa. Meski wajahnya masih tampak cemas.Hasil dari rebutan ponsel tadi. Luna dan Alfa sampai terjatuh dari kasur. Posisi terakhir, siku Luna menghantam area pribadi sang suami. Bisa dibayangkan sakitnya seperti apa."Lagian kamu itu hobi sekali menyiksa masa depanku. Gak bisa bangun lagi, kamu yang susah.""Susah di mananya. Aku tinggal cari yang baru. Yang sehat, yang ....""Tapi mereka belum tentu bisa memuaskanmu. Seperti aku memuaskanmu."Luna buru-buru menelan ludah. Menyadari jika yang diucapkan Alfa ada benarnya."Diam berarti sepakat.""Enggak bisa gitu," Luna segera membantah pernyataan sang suami."Terus?"Giliran Alfa mendesak Luna. Pria itu mendekatkan tubuh mereka. "Stop, jaga jarak. Jauh-jauh sana.""Sudah gak zamannya covid, Na. Sekarang mah jarak bebas. Mau nempel juga boleh."Kumat lagi tengilnya Alfa. Kadang Luna bingung. Yang mana satu karakt
Baca selengkapnya