Sesampainya di kamar, Nara langsung mengunci pintu. Ia menyandarkan punggungnya di pintu kayu yang dingin, membiarkan tubuhnya merosot hingga terduduk di lantai. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh juga. Bodoh. Kau benar-benar bodoh, Nara, batinnya merutuki diri sendiri. Ia teringat kehidupannya di dunia nyata. Bagaimana ibunya dikhianati oleh ayahnya demi wanita lain yang lebih kaya. Bagaimana ia sendiri tumbuh besar dengan melihat bahwa komitmen hanyalah kata-kata kosong yang akan menguap saat ada pilihan yang lebih menguntungkan. Di dunia novel ini pun, pengkhianatan ada di mana-mana. Arlo yang mengkhianati Veronica, ayah Veronica asli yang mengkhianati ibunya, dan sekarang muncul Isabella yang mengingatkannya bahwa ia hanyalah figuran dalam permainan kekuasaan para bangsawan. "Aku tidak boleh mencintainya," gumam Nara, suaranya bergetar. "Jika aku tidak mencintainya, dia tidak bisa menyakitiku. Jika aku tetap sendiri sampai akhir, aku akan aman." Ia menyeka
Read more