Hari mulai malam saat mereka akhirnya berkumpul di sebuah pendopo kayu yang berdiri di tengah area perkebunan. Angin sawah bertiup pelan membawa aroma tanah dan tanaman segar. Di atas meja panjang sederhana, berbagai makanan hangat sudah tersaji. Sayuran hasil kebun, bakwan jagung, nasi hangat, sampai buah-buahan segar yang baru dipetik tadi siang. Rose dan Azalea datang membawa beberapa piring tambahan. “Udah, makan dulu,” ujar Rose sambil menaruh mangkuk sop di meja. Bryan yang sejak tadi masih asyik ngobrol soal pertanian langsung tertawa kecil. “Nah ini baru serius ngobrolnya.” Mike ikut tersenyum lalu duduk di salah satu kursi kayu. “Maaf jadi ngerepotin,” katanya sopan. “Saya nggak nyangka bakal diajak makan juga.” Bryan langsung melambaikan tangan santai. “Nggak apa-apa.” Ia menunjuk makanan di meja. “Sekalian rasain hasil kebun di sini berkualitas apa nggak.” Mike tertarik lalu mulai mencoba beberapa makanan di depannya. Begitu mencicipi sayuran hangat itu,
Magbasa pa