“Kamu tidak sendirian, sayang. Ada Ayah akan selalu menemanimu, nak. Ayah janji akan selalu ada dalam setiap suka dan duka yang kamu lalui. Demi Tuhan, Ayah tidak akan pernah meninggalkanmu apalagi mengabaikanmu lagi. Maafkan Ayahmu ini, nak,” ucap pria paruh baya itu sambil mengusap punggung Salsa.Di satu sisi ia bahagia mendengar ucapan Ayahnya. Tapi di sisi lain yang dia butuh Nathan.Salsa mengusap pipinya yang basah dengan punggung tangannya. Tangisnya mulai mereda, meski napasnya masih terengah-engah dan ulu hatinya masih terasa sangat sakit. Dia perlahan melepas pelukan sang Ayah, lalu menatap kosong ruang perawatan di rumah sakit itu.Menangis sampai air matanya habis pun ternyata tidak membuat Nathan langsung muncul di ruangan ini. Berbaring di ranjang ini sambil meratapi nasib justru membuat kepalanya semakin semakin sakit dan mau pecah. Tangan Salsa bergerak turun, mengelus perutnya yang mulai membuncit. Di dalam sana, ada dua janin yang ikut merasakan betapa hancurnya kea
Read more