“Siapa, Al?” Tanya Salsa. Mereka sampai menghentikan langkah saat Alea mengangkat panggilan telepon itu. Salsa pikir itu dari Papanya, ternyata bukan Alea menggeleng, “bukan siapa-siapa,” sahutnya berbohong. Sakit hati diputusin sepihak oleh Andreas gak ada artinya dibanding dengan kondisi sang papa saat ini. “Ayo, Sa,” ajaknya lagi. Salsa mengangguk. Keduanya masuk ke dalam mobil Alea, lalu mobil meluncur menembus kemacetan pagi di pusat kota. Untung saja Salsa tidak sampai terlambat tiba di kantor. Setelah dua hari libur dan ditambah musibah besar yang terjadi membuat situasinya jauh berbeda dari hari biasanya. Apa ini hanya perasaannya saja atau situasinya memang lebih buruk dari yang pernah ia bayangkan. “Al, kamu langsung ke ruangan Papamu, ya. Aku mau absen dulu, nanti aku menyusul,” jawab Salsa. Alea kembali menangis. Dia takut tak bisa menemukan Papanya lagi di kantor. Dia mengangguk dan langsung masuk ke dalam lift yang khusus digunakan oleh pemilik perusahaan. Setelah ti
Baca selengkapnya