“Jangan pernah datang ke pelabuhan, Mas, sekali pun Mama yang ngajak,” kata Celine lagi.Napasku tersendat sesaat, kuhela putus-putus, lalu kutatap Celine. “Emangnya di pelabuhan ada apa, Cel?”Celine menghela napas, lega kurasa. “Syukurlah kalau kamu gak ke sana. Sumpah, semalam aku kebangun dan lihat kamu gak ada di sampingku.”“Aku mulai berpikir aneh-aneh, aku cek handphone dan ada pesan dari Mama kalau Mama lagi di pelabuhan. Aku mau hubungi kamu, tapi aku takut kamu lagi sama Mama. Aku gak tenang, Mas.“Aku takut kamu keseret dalam bisnis Mama. Aku takut nasib kamu kayak Papa. Kematian Pak Panca masih jadi sesuatu yang bikin aku gak tenang.”“Itu sebabnya gerd kamu kambuh? Kamu kirim pesan kepada saya saat perut kamu sakit karena mikirin saya, Cel?” tanyaku menyela.Gadis itu mengangguk. “Mas, aku butuh kamu di sini. Aku sampe mikir, apa aku kabur aja, ya? Tapi aku maunya kabur sama kamu, Mas.”Kutarik tubuh gadis itu naik ke pangkuanku, kupeluk dia erat-erat, kubiarkan kepalany
Read more