BAB 89“Mas, aku mau tidur sama kamu....” Suaraku begitu lirih, hampir tenggelam oleh isakku sendiri.Di seberang telepon tak langsung terdengar jawaban. Hanya embusan napas panjang Mas Jevan yang memenuhi speaker. Aku tahu... dia sedang menahan sesuatu."Mas?" panggilku pelan."Celine...." Nada suaranya berubah jauh lebih lembut. "Kalau saya ada di sana sekarang, saya pasti peluk kamu sampai kamu bisa tidur."Dadaku kembali terasa hangat. Aku memejamkan mata. Sudah lama sekali tidak ada yang mengatakan kalimat sesederhana itu kepadaku."Aku capek, Mas." Ini bukan tentang nafsu, tapi rasanya aku benar-benar rindu didekap dalam peluk dan manjanya.Aku mendengar suara langkah kaki dari seberang, lalu suara pintu mobil yang ditutup pelan. Mas Jevan rupanya sudah kembali melanjutkan perjalanannya."Celine, dengerin saya baik-baik."Aku mengangguk, meski dia tak mungkin melihatnya."Malam ini kamu tidur di kantor polisi, besok mungkin masih di sana, lusa juga mungkin. Keadaan memang belum
Read more