Celine menatapku dengan sorot mata yang berbeda dari biasanya. Lebih lembut dan berani. Bibirnya berbentuk huruf O naik turun menikmati Jevan Kecil.Kukumpulkan rambutnya yang tergerak, kujambak kecil dan sedikit menekan, lalu kugerakan pinggulku perlahan, tapi cukup membuat Celine tersedak karena milikku menghentak ujung tenggorokannya.Perlahan berubah menjadi agak kasar, tapi Celine juga seolah tak ingin berhenti menyudahi keinginannya memenuhi mulut mungilnya itu dengan Jevan Kecil yang makin membengkak.Air mata gadis itu perlahan turun, wajahnya basah, merah padam.“Uhh-uhukk—“ Celine menjauhkan wajahnya, terbatuk dengan liur menetes ke mana-mana.Sialnya, di mataku dia justru terlihat semakin cantik.“Sini, Mas gendong ke kamar,” ucapku sambil mengangkat tubuhnya.Celine tak menolak, langkahnya bersemangat mengikuti langkahku yang sudah tak sabar. Begitu tiba di kamar, kulempar tubuhnya ke ranjang, kulepas semua pakaianku tanpa sisa.Celine meneguk ludah, tubuhnya menggeliat, k
閱讀更多