POV BIANCARuang kerjaku kembali sunyi setelah layar televisi dimatikan. Konferensi pers yang kuadakan siang tadi berjalan sesuai rencana. Setidaknya untuk sementara, perhatian publik berhasil dialihkan. Mereka kini lebih sibuk memperdebatkan kondisi psikologis Celine daripada mempercayai setiap tuduhan yang keluar dari mulut anak itu.Aku baru saja menuangkan segelas air ketika ponsel di atas meja bergetar. Nama Rian muncul di layar. Tanpa menunggu lama, panggilan itu langsung kuangkat sambil berjalan mendekati jendela."Hallo, Rian, gimana?""Bu, saya sudah sampai di Kampung Cisadas.""Lalu?""Rumah Pak Amri kosong."Langkahku terhenti. Gelas yang semula hendak kuangkat kembali kuturunkan ke atas meja, sementara tatapanku tetap tertuju ke luar jendela."Kosong?""Iya, Bu. Kata warga, mereka sudah pindah."Aku tidak langsung menjawab. Jemariku justru mengetuk pelan kaca jendela, mencoba menyusun setiap kemungkinan yang ada di kepalaku."Siapa yang bilang?""Hampir semua warga di kamp
Read more