Dalam detik-detik yang menegangkan itu, Sabiya menahan napas. Ia sudah bersiap memotong pembicaraan, sebelum Nina bertanya lebih jauh. Namun, sebelum sepatah kata keluar dari bibir Sabiya, Altair tiba-tiba menolehkan pandangan. Bocah kecil itu menatap perempuan dewasa di sampingnya tanpa ekspresi. "Kalau Tante mau tahu, aku bisa menelepon Papa sekarang lewat video call,” ucap Altair. Jemari kecilnya bergerak menyentuh ritsleting ransel, seakan hendak bersiap mengeluarkan gawai."Tante bisa melihat sendiri di layar, apa warna mata Papa sama denganku."Mendengar tawaran dari Altair, wajah Nina berubah panik. Bagaimanapun, menelepon suami atasannya di pagi hari akan terlihat sangat tidak sopan dan melewati batas profesional kerja."Ah... tidak, tidak usah, Sayang. Tidak perlu sampai menelepon papamu," sahut Nina dengan tawa canggung yang dipaksakan. Wanita angkuh itu buru-buru memundurkan tubuhnya dan bersandar pada jok mobil . Keberanian dan ketenangan bocah lima tahun sukses mengunc
Read more