"Arland! Alana sudah sadar, tapi dia histeris dan terus memanggil kamu!" Suara Tanteku tiba-tiba menggema, membuat ballroom kembali riuh. "Tanggungjawab, Land. Kamu yang sudah menyebabkan putriku begini!" hardik Tanteku tepat di hadapan Mas Arland. Namun, lelaki yang masih mengenakan beskap putih dan memeluk kotak mahar itu tampak diam. Tidak memberi reaksi apapun. Hingga pada akhirnya, Tanteku menariknya paksa keluar dari ballroom. Dan ia, tidak lagi berada di sini. "Lyra ...?" panggil Om Mahesa yang sejak tadi turut menjadi saksi akad dadakanku. Aku pun hanya menoleh dan menatapnya. Lantas ia menyentuh tanganku, menggenggam pelan. "Sungguh, om meminta maaf. Om gagal memenuhi permintaan almarhum ayahmu. Arland ternyata tidak mampu menjagamu, dia justru menyakiti kamu. Maafkan Om, Lyra," ucapnya lirih. "Ayahmu pasti sangat marah
Read more