Emma tak menunggu sedetik pun lagi.Ia berlari ke sisi ranjang, lututnya menghantam lantai tanpa ia pedulikan. Tangannya gemetar saat menggenggam tangan Raynard yang dingin, lemah, namun nyata. Air mata menetes begitu saja, jatuh ke punggung tangan itu.“Raynard,” gumamnya berulang kali, suaranya pecah. “Aku di sini. Aku benar-benar di sini.”Ia menunduk, menempelkan keningnya ke tangan Raynard, seolah takut jika ia melepaskan, sosok itu akan kembali menghilang.“Aku nggak ke mana-mana,” bisik Emma pelan, penuh keyakinan. “Dengar aku… aku di sini.”Napas Raynard terdengar berat, tidak teratur. Dadanya naik turun pelan, seolah bertarung untuk tetap bertahan.Di sudut ruangan, Oliver berdiri terpaku.Tangannya yang terlipat di depan dada perlahan mengendur. Matanya berkaca-kaca melihat pemandangan itu. Seorang manusia yang begitu rapuh, namun menjadi satu-satunya jangkar bagi tuan mudanya.Ia memalingkan wajah, menelan ludah, berusaha menyembunyikan getaran di dadanya.“Begini rupanya,”
Read more