Di dalam lift VIP yang sempit, pasokan udara di sekitar Vania terasa kian menipis. Bekapan telapak tangan Bumi yang hangat dan besar di mulutnya membuat detak jantungnya berdegup liar—campuran antara rasa panik rapat tadi dan keintiman mendadak yang teramat mengintimidasi ini.Bumi perlahan menurunkan tangannya dari bibir ranum Vania. Jemari kasarnya sempat bergeser pelan di bibir bawah Vania, sebelum akhirnya ia mundur satu langkah, membenamkan kedua tangannya di saku jas abu-abu gelapnya.Vania buru-buru menarik napas panjang, menetralkan gemuruh di dadanya."Jangan pernah menyentuhku lagi di kantor, Bumi. Orang lain bisa melihat," desis Vania dengan suara rendah yang tajam, mencoba mengingatkan kembali batas hubungan profesional di antara mereka.Bumi hanya terkekeh rendah, sama sekali tidak terintimidasi oleh tatapan elang Vania. "Aku hanya berusaha menenangkanmu, Nyonya. Lagipula demuanya berjalan baik, kan, tadi. Sudahlah...""Menyebalkan! Sudah sana ke ruanganmu sendiri! Di uju
อ่านเพิ่มเติม