Langkah kaki Arga terhenti tepat di ambang pintu masuk mansion.Suara raungan mesin helikopter yang dipesan Siska terdengar samar-samar dari kejauhan.Arga berbalik, menatap Amara, Siska, Nadine, dan Vania yang berdiri berjejer di belakangnya."Ayo berangkat. Gak usah pake drama perpisahan segala," ucap Siska ketus, menyembunyikan getaran cemas di suaranya."Tunggu dulu," potong Amara sambil melangkah maju ke depan Arga.Janda elegan itu menatap Arga dengan pandangan yang sangat serius, instingnya mengatakan ada yang kurang."Kita semua tahu ini bakal jadi pertempuran hidup dan mati," ucap Amara pelan namun tegas."Kalau lo berangkat dengan kondisi energi kayak gini, peluang lo menang tipis, Arga," lanjut Amara blak-blakan.Arga mengernyitkan alisnya, menatap Amara bingung."Maksud lo? Gue ngerasa fit-fit aja kok," sanggah Arga sambil membusungkan dada bidangnya yang sekeras baja.Deggg...Cincin Naga Tidur di jari manis Arga mendadak ber
Magbasa pa