92 "Mas, bisa tolong obatin?" tanya Aditya, seusai melepaskan jaketnya.Fachri menyambangi Ajudan Selembe dan memeriksa luka di sepanjang lengan kanan pria tersebut. "Duduk dulu, Om," ucapnya, sembari berdiri dan memberikan kursinya "Kena apa ini?" desaknya sambil mengamati luka itu."Pedang pendek Ruan Haakon," terang Aditya."Aku bersihkan dulu. Tahan, ya. Agak perih." Dokter muda itu meraih botol alkohol dan gumpalan kapas, serta kasa. "Zid, tolong ambilkan obat luka," pintanya, sebelum memulai tugasnya. Aditya meringis menahan perih saat lukanya dibersihkan. Dia mengaduh ketika Fachri menekan area paling dalam dengan kasa, supaya bagian itu bisa dibersihkan secara maksimal.Bayazid mendekat sambil membawa cairan obat tradisional Tiongkok. Setelah Fachri mundur, Bayazid mengoleskan obat itu ke tangan Aditya, dengan hati-hati. "Bang, Ruan Haakon, di mana?" tanya Mahesa, yang baru meletakkan Ruan Eadwald ke kasur tipis."Kukunci di container belakang," jelas Aditya dengan santai.
Magbasa pa