Setetes darah segar berwarna merah pekat mengalir pelan dari leher mulus Cassandra, menetes menembus gaun sutra tidurnya ketika mata pedang tajam Kenneth makin menekan kulitnya. Udara yang dingin ditambah dengan emosi Kenneth yang mampu menekan suasana menjadi semakin tak nyaman. Deru napas berat sang Tiran yang dipenuhi aura membunuh yang siap menebas siapa saja yang menghalangi jalannya. "Diam!" bentaknya dengan suara bariton rendah, namun penuh penekanan. Ujung pedangnya sampai bergetar halus akibat amarah yang sudah tak dapat ia tahan. "Satu kata lagi yang keluar dari mulut mu, aku pastikan lehermu akan terpisah dari tubuhmu detik ini juga, Cassandra!" Bukannya gentar, Cassandra justru memiringkan sedikit kepalanya, menatap Kenneth dengan sepasang netra yang berkilat penuh kelicikan. "Atau begini. Kau mau mendengar kan tawaranku dulu, Suamiku yang Terhormat?" bisik Cassandra sinis. Hal itu langsung menyenggol ego sang Tiran. "Aku bisa tutup mulut dari seluruh negeri. Namun, buk
Read more