Mobil melaju pelan menembus kemacetan sore. Langit mulai berubah jingga, semburat cahaya matahari menyelinap di antara celah-celah gedung, menciptakan bayang-bayang panjang di atas aspal. Di dalam kabin mobil yang sunyi, udara terasa berat. Alexandro duduk di sampingku, menatap ke luar jendela dengan wajah yang sulit dibaca. Rautnya datar, seperti patung yang tak punya perasaan. Aku sudah terbiasa dengan sikapnya, tapi hari ini, ada sesuatu yang lain—kesunyiannya terasa lebih pekat dari biasanya.Marco menyetir di depan. Wajahnya tenang, matanya fokus ke jalan, tangannya memegang setir dengan mantap. Sesekali dia melirik kaca spion, memeriksa apakah ada yang mengikuti. Gerakannya otomatis, penuh kewaspadaan, hasil dari bertahun-tahun menjadi bayangan Alexandro. Aku menatapnya dari kursi belakang, punggungnya yang tegap, bahunya yang lebar, rambutnya yang selalu rapi. Dia tampan. Aku tidak pernah benar-benar memperhatikannya sebelumnya. Bagiku, Marco hanyalah pelengkap, selalu di latar
Mehr lesen