Leo menangis tersedu-sedu. Bahunya yang mungil berguncang hebat, tangannya yang gemas mengusap-usap mata yang basah, tapi air mata tetap mengalir deras membasahi pipi tembamnya. Suara isaknya pecah di ruang makan yang sunyi, memecah keheningan yang hanya diisi detak jam dinding.Aku memeluknya erat-erat. Dagu kecil itu bersandar di bahuku, basah oleh tangisnya yang tak berkesudahan. Bau sabun dan susu masih melekat di rambut pirang keritingnya."Ale, tolong buat dia diam," pintaku setengah berbisik, mataku menatap pria di seberang meja."Aku tidak mau." Alexandro melipat tangan di dada. Wajahnya masih datar, tidak ada simpati dan tidak ada penyesalan. "Dia harus belajar bahwa dunia ini tidak selalu ramah padanya. Lebih cepat dia tahu, lebih baik.""Dia masih tiga tahun!" potongku, suaraku meninggi sedikit."Tiga tahun cukup umur."Aku menatapnya dengan wajah cemberut, mengerucutkan bibir seperti anak kecil yang kesal. "Tolong, dia masih anak-anak. Mainan itu hanya jatuh, tidak pecah."
Read more