"Gila kamu, Bayu! Lepaskan tanganku! Kalau Dinda sampai lihat, harga diriku hancur!" desis Nyonya Selin panik. Mendengar ketukan di pintu, dia meronta, berusaha melepaskan diri dari atas ranjang, nyonya Selin benar-benar takut jika skandalnya dengan sopir ini dipergoki Dinda. Meskipun Dinda di luar baik, tapi tegap saja dia adik tiri Selin, yang kapan saja bisa menusuk dirinya dari belakang, kalau sampai memegang kelemahan Selin. "Ada Dinda, kita lanjutkan nanti saja, Bay." Nyonya Selin mendorong Bayu menjauh, tapi bukannya patuh seperti biasa, Bayu malah memeluk erat sang nyonya. "Bay! kamu mau aku kena masalah?!" Nyonya Selin berbisik sambil melotot, tapi Bayu tetap tidak mundur. "Lagi enak-enaknya, saya nggak mau ditunda lagi, Nyonya. Udah berapa hari nyonya nggak ngasih saya jatah? Disini udah menumpuk," ucap Bayu, menggesekkan gatotnya yanh kencang ke paha nyonya Selin, membuat nyonya Selin mendesah reflek. "A-ahhh, tapi ada Dinda, Bay. Aku ... aku harus nemuin dia biar dia
Read more