Bayu mulai bergerak pelan, mendorong pinggulnya maju mundur dalam ritme yang dalam dan terukur. Sofa berderit pelan menahan berat tubuh mereka, suara kayu tua yang merintih di bawah gempuran gerakan mereka. "Kamu... sempit sekali, Selin... aku bisa merasakan milikku dijepit olehmu, ahhh..." desis Bayu dengan napas tersengal, dahinya berkeringat. Selin menggeliat di bawahnya, kukunya mencengkeram lengan sofa hingga kuku-kuku merahnya nyaris menusuk kain beludru. "Lebih keras! Hentakkan lebih keras, Bayu! Genjot aku, Bay! Sodok, ahhhh!!!" Bayu mempercepat gerakannya. Tubuhnya menghantam Selin dengan ritme yang semakin liar, pinggulnya beradu dengan paha Selin dalam benturan basah yang memekik di ruang tengah yang sunyi. Desahan dan lenguhan dari kedua mulut bercampur aduk, menggema di antara dinding-dinding rumah besar itu seperti nyanyian dosa yang tak mau padam. "Ah... ah... Bayu... di sana... tepat di sana!" jerit Selin, kepalanya terlempar ke belakang, rambut hitamnya mena
Baca selengkapnya