Nyonya Selin menunjuk ke lantai marmer yang dingin. "Lantai ini sangat dingin dan keras. Pantatku sakit." Bayu tertawa, tertawa yang lepas, bahagia, yang membuat seluruh ruangan terasa lebih hangat. "Kalau begitu, biarkan aku memindahkanmu ke tempat yang lebih nyaman, Nyonya." Tanpa peringatan, ia mengangkat nyonya Selin dalam pelukannya, seolah-olah beratnya tidak lebih dari sehelai bulu dan membawanya kembali ke tempat tidur. Ia meletakkannya dengan lembut di atas kasur yang empuk, lalu berbaring di sampingnya, menarik selimut menutupi tubuh mereka berdua. "Kamu tahu," kata Bayu, matanya menatap langit-langit, "ini bukan cara yang aku bayangkan untuk menghabiskan pagi hari setelah hampir mati." "Apa yang kamu bayangkan, kalo gitu?" tanya nyonya Selin, memeluk lengannya. "Aku pikir aku akan sibuk melaporkan kejadian ke polisi, mengamankan tempat, mengganti kaca yang pecah..." Bayu menoleh, tersenyum. "Bukan ini." "Apakah kamu keberatan, kalo aku minta seperti ini, Bay?"
Baca selengkapnya