"Nyonya, jawab..." bisik Bayu, suaranya parau dan berat. Nafasnya menyapu leher nyonya Selin, lalu ia menciumnya, bukan ciuman lembut seperti di lorong rumah sakit, tapi ciuman yang haus, liar, menggigit, dan menuntut pembalasan. Bibirnya meremas bibir nyonya Selin, sementara kedua tangannya menjelajah tubuh wanita itu seperti seseorang yang kehausan setelah bertahun-tahun di gurun."Aku, aku... ahhh." Nyonya Selin mengerang, lengannya melingkar erat di leher Bayu, menariknya semakin dekat. Jari-jarinya meremas rambut pendek Bayu, mengacak-acaknya, sementara ciuman mereka semakin dalam, semakin basah, semakin tak terkendali. "Oh... Bayu..." desah nyonya Selin di sela-sela ciuman. "Aku sudah nggak tahan... Aku menahan ini seharian penuh, aku ingin semuanya, Bay. yang normal atau brutal, semuanya...""Pintar." Bayu menurunkan ciumannya ke leher nyonya Selin, menggigit kulit lembut di balik telinga, lalu menghisapnya pelan hingga meninggalkan bekas merah. Tangan kasarnya meraih
Baca selengkapnya