Setiap langkah Ivy terasa seperti ketukan palu yang menekan mental perempuan misterius itu. Tubuh di hadapannya tampak semakin menciut seiring terpangkasnya jarak di antara mereka. Kepalanya tertunduk dalam hingga dagunya hampir menyentuh dada, sama sekali tidak berani mengangkat wajah bahkan ketika Ivy sudah berdiri persis di hadapannya.Jujur, ini janggal. Dalam keheningan yang menyelimuti mereka, pikiran Ivy bekerja keras memeriksa kepingan memori yang tertinggal. Ia tidak mengenal perempuan ini, tetapi di saat yang bersamaan, keyakinannya terus mengusik bahwa mereka pernah berpapasan di suatu tempat.Logika Ivy berputar cepat. Jika perempuan ini hanya tamu biasa—atau rekan bisnis sang ayah—reaksinya sama sekali tidak masuk akal. Tidak ada alasan baginya untuk gemetar seperti itu, apalagi sampai menyembunyikan wajah seolah Ivy adalah ancaman yang siap mengeksekusinya kapan saja. Gestur ketakutan yang terlalu defensif, terlalu bersalah. Ivy membatin. Perempuan ini jelas tahu siap
اقرأ المزيد