“Ayah… kenapa mereka memborgol Ayah?”Suara Pitaloka Prameswari bergetar. Ia berdiri beberapa langkah dari ayahnya yang ditahan, mencoba memahami kenyataan yang terasa terlalu tiba-tiba.Ayahnya adalah seorang konglomerat kenamaan yang pengaruhnya sangat besar. Jangankan aparat penegak hukum, rezim pemerintahpun tidak akan berani menyentuh. Tapi lihatlah apa yang sekarang dilakukan orang-orang berseragam itu pada ayahnya. Sangat kasar dan tidak manusiawi.“Silakan menyingkir, Nona. Ini proses hukum.”“Proses hukum apa sampai harus seperti ini?” Pitaloka merangsek maju. “Ayah saya tidak pernah—”“Pitaloka.”Satu panggilan itu menghentikannya.Shandi, ayahnya, menatap Pitaloka dalam-dalam. Ada sesuatu yang berbeda di sana. Bukan marah. Bukan takut, melainkan waktu yang habis.“Dengar Ayah baik-baik.”Pitaloka mendekat, napasnya tak beraturan. “Ayah, kita bisa selesaikan ini. Aku akan panggil seluruh pengacara, kita—”“Tidak ada waktu.”Pegangan tangan ayahnya menguat.“Menikahlah dengan
Last Updated : 2026-06-11 Read more