LOGIN“Wali kota ikut bermain.”Shandy menjatuhkan flashdisk tepat di kakinya lalu mendorong pelan ke arah Pramana.Saat ini semua gerak geriknya diawasi jadi sebisa mungkin dia tidak ingin mengundang kecurigaan.“Dia bukan dalang utama, tapi dia terlibat," jelas Shandy lagi.Pramana langsung mengamankan flashdisk itu. Flashdisk yang berisi bukti-bukti yang bisa menyelamatkan Shandy dari semua tuduhan. foto-foto pertemuan rahasia dan salinan transaksi yang tercetak di sana rasanya cukup untuk membebaskan Shandy.“Berarti mereka memang sengaja menjatuhkan kamu?" tanya Pramana dengan tangan mengepal.“Bukan cuma menjatuhkan.” Ia menyandarkan tubuh pelan ke kursi besi ruang tahanan itu. “Mereka mau memastikan aku nggak bisa bangkit lagi.”Pramana masih mendengarkan Shandy dengan rahang mengeras. Baginya, menjatuhkan Shandy sama saja menjatuhkan dirinya. Dan sahabatnya sama sekali tidak pantas mendapatkan perlakuan buruk tersebut.“Aku udah bilang dari dulu,” gumamnya pelan. “Kalau kamu ingin m
1Markas Komando Pasukan Khusus terlihat lebih ramai dari biasanya saat sebuah truk katering memasuki gerbang utama.Bukan hanya satu, ada lima sampai enam truk dengan berbagai macam makanan yang datang.Beberapa prajurit yang baru selesai latihan langsung saling melirik. Tampak sekali kalau mereka sangat senang dengan kedatangan truk-truk itu."Makan-makan besar lagi kita," seloroh seorang prajurit yang sedang membersihkan sepatunya. Dia seperti sudah tahu siapa pengiri truk berisi makanan tersebut."Tapi tidak akan menimbulkan perang kan setelah dia tahu Komandan menikah?" sahut prajurit yang lain dan langsung mendapat pelototan dari teman-temannya.Pernikahan Danendra adalah sebuah rahasia umum, semua orang sudah tahu. Tapi bukan berarti boleh dibicarakan secara terbuka."Oke, aku menutup mulut," jawab prajurit tersebut, membuat gerakan mengunci mulut dan membuang kuncinya jauh-jauh.Tak lama kemudian, seorang wanita turun dari mobil sport keluaran terbaru, yang mengikuti truk terse
***“Ayah terlalu baik sama dia,” ucap Tiara pelan. Gadis yang masih menggunakan seragam sekolah tingkat atas itu duduk gusar di samping Anggita.Kedatangan Pitaloka membuatnya marah. Karena wanita yang dia anggap asing itu langsung merebut perhatian ayahnya.Anggita masih terlihat kesal. Tatapannya sesekali mengarah ke ruang makan, tempat suara Pramana terdengar sibuk memberi arahan pada para pekerja di rumah bagaimana cara melayani Pitaloka. Sudah seperti Tuan Putri saja.“Lihat saja nanti,” ujar Anggita lirih. “Akan kubuat dia seperti tinggal di neraka!"Rasa benci Anggita semakin menjadi-jadi, apalagi ditambah dengan suaminya yang terkesan sangat memanjakan Pitaloka. Suaminya dingin sekali padanya, tapi pada Pitaloka sangat mengayomi.Tiara mendengus kecil. “Tapi Kak Danen kenapa nggak nolak aja permintaan konyol menikahi Pitaloka itu!" ucap Tiara dengan tatapan sinis. "Komandan pasukan khusus kok ngga tegas!"Sama seperti sang ibu, adik kandung Darendra itu terlihat sangat membe
"Hebat ya, Komandan pasukan khusus tapi istrinya anak koruptor!"Pitaloka baru saja menginjakkan kaki di depan pintu rumah Danendra, tapi sambutan yang ia terima berhasil membuat darahnya mendidih. Terlebih yang mengatakan itu adalah Anggita, Ibu Danendra sendiri."Maksud Mama apa berkata seperti itu?" tanya Pitaloka dengan nada tinggi. Dia paling benci jika ada yang menjelekkan ayahnya. Apalagi itu bukan hal yang benar.Ayahnya bukan koruptor, Ayahnya hanya dijebak."Mama?" tanya Anggita dengan nada mengejek. "Sejak kapan saya jadi Mama mu? Tidak sudi!" lanjutnya lagi.Anggita benar-benar menunjukkan ketidaksukaan. Dia sangat jijik berdekatan dengan Pitaloka dan tidak sudi lagi dipanggil Mama.Pitaloka tertawa sumbang. Namun begitu, sudut matanya mulai berarir."Anda sendiri yang dulu meminta untuk saya panggil Mama!" terang Pitaloka dengan gigi bergemelatuk, berusaha keras menahan emosi yang siap meledak.Pitaloka tentu tidak akan pernah lupa bagaimana Anggita memohon-mohon untuk di
Sejak dulu, Pitaloka menyukai pria itu. Pria yang selalu diam di belakangnya. Pria yang tidak banyak bicara, tapi selalu ada saat ia butuh. Namun jarak kasta mereka dulu sangatlah jauh.Daren hanya prajurit tingkat rendah yang ditugaskan untuk menjaga putri kesayangan seorang Taipan. Sedangkan Pitaloka adalah Tuan Putri calon pewaris seluruh kekayaan Tirtagrup.“Jangan lari terlalu jauh, Nona.”“Hati-hati.”“Di belakang saya saja.”Kalimat-kalimat sederhana itu, entah sejak kapan berubah menjadi sesuatu yang lebih dalam.Dan hari ini cinta itu bukan sesuatu yang tahu dan Pitaloka benar-benar akan menjadi istri Daren."Nona," panggil sebuah suara dengan isakan. Pitaloka sangat kenal suara itu. Suara pengasuh yang sudah merawat dia sejak bayi."Bibi," jawab Pitaloka dengan segera memeluk Bi Sekar. Dua wanita beda generasi itu berpelukan sangat erat. "Mereka membawa Ayah, Bi. Mereka memperlakukan Ayah seperti seorang kriminal," ucap Pitaloka mengadukan peristiwa hari ini pada Bi Sekar, s
“Ayah… kenapa mereka memborgol Ayah?”Suara Pitaloka Prameswari bergetar. Ia berdiri beberapa langkah dari ayahnya yang ditahan, mencoba memahami kenyataan yang terasa terlalu tiba-tiba.Ayahnya adalah seorang konglomerat kenamaan yang pengaruhnya sangat besar. Jangankan aparat penegak hukum, rezim pemerintahpun tidak akan berani menyentuh. Tapi lihatlah apa yang sekarang dilakukan orang-orang berseragam itu pada ayahnya. Sangat kasar dan tidak manusiawi.“Silakan menyingkir, Nona. Ini proses hukum.”“Proses hukum apa sampai harus seperti ini?” Pitaloka merangsek maju. “Ayah saya tidak pernah—”“Pitaloka.”Satu panggilan itu menghentikannya.Shandi, ayahnya, menatap Pitaloka dalam-dalam. Ada sesuatu yang berbeda di sana. Bukan marah. Bukan takut, melainkan waktu yang habis.“Dengar Ayah baik-baik.”Pitaloka mendekat, napasnya tak beraturan. “Ayah, kita bisa selesaikan ini. Aku akan panggil seluruh pengacara, kita—”“Tidak ada waktu.”Pegangan tangan ayahnya menguat.“Menikahlah dengan







