Ana menunduk lesu, kedua tangannya saling bertaut di depan apronnya.“Tidak apa-apa. Aku tidak akan bilang pada Damian kalau kau kelepasan.”Ana mengangkat kepalanya, “Sungguh? Terima kasih, Nyonya.” Ia buru-buru menambahkan, “Dan maaf, sungguh.”Aku mengangguk sambil tersenyum tipis. Langkahku gontai meraih kursi terdekat, lalu duduk di atasnya. Aku menarik napas panjang, menenangkan diri sambil memproses semua ini. Berbagai pikiran berkecamuk di kepalaku, aku perlu merunutnya satu per satu.Ana tidak perlu khawatir, sungguh. Karena tentu tidak akan kuberitahu Damian. Hal yang pertama yang harus kulakukan saat mengetahui strategi lawan adalah pura-pura tidak tahu kalau aku tahu. Kupikir aku yang mengendalikan cerita, tapi ternyata Damian membuatku berdansa di atas telapak tangannya.Sekarang yang perlu kupikirkan, seberapa banyak hal yang ia tahu dari rencanaku? Soal Hannah? Soal klausa pada perjanjian pranikah?Haruskah aku ikut permainannya dan pura-pura menurut?“Ana, suamiku bilan
اقرأ المزيد