Pernah suatu hari aku penasaran banget sama buku 'Bali Tempo Doeloe' karena denger cerita dari temen yang koleksi buku antik. Aku langsung buru-buru cari versi digitalnya buat dibaca di tablet. Setelah googling sana-sini, ternyata cukup susah nemuin e-book resminya. Beberapa situs indie ada yang nawarin PDF, tapi aku ragu soal legalitasnya. Akhirnya nemuin versi cetak bekas di marketplace lokal, dan menurutku sensasi baca buku fisik kayak gini malah lebih pas buat nuansa nostalgia yang diangkat.
Kalau mau versi digital yang aman, mungkin bisa kontak langsung penerbitnya atau cari di platform khusus buku-buku langka. Tapi jujur, dari segi atmosfer, buku fisik dengan foto-foto lama itu beneran bikin kamu kebawa ke masa lalu. Aku sendiri malah jadi kepo buat hunting edisi cetaknya setelah gagal nemu e-book.
Aku tipe orang yang prefer baca e-book karena praktis, jadi sempet frustasi juga waktu nyari 'Bali Tempo Doeloe' dalam format digital. Dari pengalamanku ngecek toko online besar kayak Google Play Books atau Gramedia Digital, kayaknya belum tersedia versi resminya. Beberapa grup kolektor buku di Facebook pernah bahas ini - katanya ini termasuk buku langka yang distribusi digitalnya terbatas. Mungkin karena faktor hak cipta foto-foto arsip yang ada di buku tersebut. Tapi siapa tau ya, bisa aja suatu saat nanti diterbitkan ulang dalam bentuk e-book buat generasi sekarang yang lebih melek digital.
Waktu iseng cari-cari referensi tentang sejarah Bali, langsung jatuh cinta sama konsep 'Bali Tempo Doeloe'. Sayangnya, setelah cek berbagai platform e-book baik lokal maupun internasional, sepertinya belum ada versi digital yang resmi. Mungkin karena termasuk kategori buku spesialisasi yang marketnya niche. Tapi justru ini bikin bukunya jadi terasa lebih eksklusif. Kalau emang ngebet banget pengen baca, saran aku sih coba datengin perpustakaan daerah atau taman bacaan yang specialize di koleksi sejarah. Siapa tau mereka punya versi fisik yang bisa dipinjam.
Dari riset kecil-kecilan yang kulakukan, buku 'Bali Tempo Doeloe' ini memang lebih mudah ditemui dalam bentuk fisik ketimbang digital. Aku sempet tanya ke beberapa teman yang kerja di penerbitan, katanya buku-buku dokumenter tempo dulu seperti ini seringkali punya masalah dengan lisensi konten visual ketika mau dikonversi ke format e-book. Uniknya, justru karena kelangkaannya ini, banyak komunitas sejarah yang saling share info kalau ada stok buku bekasnya muncul di lapak-lapak tertentu. Menurutku ini jadi semacam petualangan tersendiri buat para pemburu buku - baik yang mau koleksi fisik maupun yang masih berharap ada versi digitalnya suatu hari nanti.
2026-02-11 10:41:21
3
View All Answers
Scan code to download App
Related Books
Jangan Dikeluarin Dulu, Dok!
Mas Author
9.9
229.3K
"Dok, aku udah basah, cepat periksa!"
Nayla Raharja, seorang gadis 25 divonis mengalami penyakit tak biasa di area paling intimnya. Namun, dia terkejut karena yang menanganinya kali ini bukanlah Dokter Lusi, melainkan dokter laki-laki bernama Naufal Mahendra.
Nayla awalnya menolak berganti dokter, lagipula dia malu jika ada laki-laki selain suaminya yang melihat 'miliknya'. Ia pun berniat untuk membatalkan pemeriksaan, tetapi rasa sakit di tubuhnya sudah tak tertahan. Apalgi setiap dia teringat suaminya, yang bahkan enggan menyentuhnya selama 6 bulan mereka menikah. Sungguh, sungguh menyakitkan menjadi istri yang tak pernah diberi nafkah, hanya karena alasan jijik!
Karena sakit itulah, Nayla akhirnya mau diperiksa, sampai akhirnya dia terjebak dalam hasrat yang dia ciptakan sendiri.
Usai dibegal dan hampir diperkosa, Alya diselamatkan oleh Reihan, dosen sekaligus kepala jurusan di kapusnya. Namun, warga justru berpikir mereka berzina hingga akhirnya dipaksa untuk menikah malam itu juga. Kini, Alya harus menjalani kehidupan ganda sebagai mahasiswi biasa di kampus, dan istri dosennya sendiri di rumah.
Dunia Arlina nyaris runtuh!
Pria yang bersamanya semalam ternyata adalah dosen kampusnya. Bahkan yang lebih mengejutkan lagi, Arlina kini hamil! Dengan tangan gemetaran, Arlina menyerahkan hasil tes kehamilan kepada Profesor Rexa. Pria itu memberinya dua pilihan. Pertama, menggugurkan kandungan atau kedua, menikah. Akhirnya, Arlina yang polos itu pun menikah dengan dosennya sendiri.
Setelah menikah, mereka tidur di kamar terpisah. Namun, suatu malam Rexa muncul di depan pintu kamar Arlina sambil memeluk bantal. "Pemanas di kamarku rusak, malam ini aku tidur di sini dulu," ujarnya.
Arlina yang masih bingung hanya bisa mengangguk dan memberikan jalan.
Keesokan malamnya, Rexa kembali datang. "Pemanasnya belum diperbaiki, aku tidur di sini lagi, ya?" Akhirnya, dia menetap di kamar Arlina dengan dalih menghemat biaya pemanas untuk persiapan kelahiran anak mereka.
....
Fakultas Kedokteran Universitas Sterling adalah salah satu kampus ternama di negeri ini. Profesor Rexa adalah sosok yang sangat terkenal di sana sebagai profesor termuda di fakultas kedokteran.
Di jari manisnya selalu tersemat cincin nikah, tetapi tidak pernah terlihat ada wanita bersamanya. Hingga suatu hari, rasa penasaran mahasiswa memuncak. Seorang mahasiswa memberanikan diri bertanya di kelas.
"Pak Rexa, kami dengar Anda sudah menikah. Kapan Anda akan memperkenalkan istri Anda kepada kami?"
Tak disangka, Rexa malah menunjuk seseorang, "Arlina." Seorang wanita profesional yang berdiri di antara mahasiswa refleks menjawab, "Hadir."
Di bawah tatapan semua orang, Rexa tersenyum hangat sambil berkata, "Perkenalkan, ini istri saya, Arlina. Dia adalah seorang dokter bedah jantung yang hebat."
Karin, seorang mahasiswi koas yang dihantui trauma sentuhan, terancam gagal di stase ginekologi akibat ketidakmampuannya melakukan pemeriksaan fisik, hingga ia bertemu dr. Arlan Pradipta, konsulen dingin dan jenius yang menawarkan "bimbingan privat" tak etis untuk menyembuhkan mati rasanya.
Di balik pintu terkunci dan di bawah otoritas yang mengintimidasi, Karin dipaksa menjalani serangkaian latihan sensorik yang mengaburkan batas antara edukasi medis dan pemuasan hasrat.
"Malam ini, saya akan mulai praktek dengan tubuhmu!"
"Pak Argan, jangan baca novel ini!"
Menjadikan dosen sendiri sebagai inspirasi novel erotis adalah ide gila. Dan sialnya, novel itu jadi trending 1 di aplikasi hingga Sang Dosen yang killer dan dingin itu jadi pembaca setianya. Pak Argan menatap bibirku sekilas, lalu kembali ke mataku.
"Novelmu bagus, tapi alangkah lebih bagus lagi, kamu bisa menghidupkan feelnya, melakukannya denganku!"
Daniel menunduk, wajahnya sangat dekat. "Aku belum melakukan apa-apa… tapi kamu sudah gemetar. Nadia, kamu pikir aku nggak notice?"
Konflik awal antara mereka dikarenakan, Daniel memotret cafe milik Nadia secara diam-diam sedangkan Nadia sangat menjaga privasi tempatnya.
Nadia selalu berusaha menghindari Daniel, Daniel tidak menyerah untuk mendekati Nadia sampai akhirnya jarak diantara mereka semakin menipis.
Di bawah langit Ubud mereka menemukan kenyamanan, gairah, dan cinta yang tumbuh tanpa rencana. Namun, perbedaan usia, budaya, rahasia yang tersimpan, dan pandangan hidup mulai menjadi bayang-bayang yang sulit dihindari.
“Om Bule Kekasihku” adalah kisah cinta lintas usia yang manis, berani, dan menggoda, tentang dua hati yang dipertemukan takdir di tanah Bali, tempat di mana cinta dan gairah berpadu menjadi satu cerita yang tak terlupakan.
Kalau mencari 'Bali Tempo Doeloe' versi terbaru, aku biasanya langsung melirik toko buku independen yang specialize di literatur sejarah atau budaya lokal. Toko seperti 'Kutubuku' di Denpasar sering jadi langganan karena koleksinya lengkap dan pemiliknya bisa kasih rekomendasi edisi terupdate.
Online shop seperti Tokopedia atau Shopee juga opsi praktis—cari seller dengan rating tinggi dan ulasan spesifik tentang kondisi buku. Kadang ada diskon menarik atau bundle dengan buku serupa. Jangan lupa cek Instagram komunitas pecinta Bali; mereka sering bagi info pre-order atau stock terbaru di toko tertentu.
Pernah nemu buku 'Bali Tempo Doeloe' di rak tua toko buku langgananku, sampelnya udah agak kekuningan tapi aura nostalganya kuat banget. Penulisnya adalah I Gusti Ketut Kaler, seorang tokoh budaya Bali yang karyanya banyak ngungkapin kehidupan masyarakat Bali zaman kolonial. Tulisan-tulisannya itu kayak mesin waktu—bawa kita liat langsung bagaimana tradisi, konflik, sampai dinamika sosial di Bali jaman dulu. Yang bikin special, gaya bahasanya nggak terlalu akademis, lebih mirip obrolan sama orang tua yang ceritain masa lalunya.
Aku personally suka banget sama cara dia ngangkat detail kecil kayak upacara adat atau interaksi sehari-hari orang Bali sama Belanda. Buku ini juga jadi salah satu referensi favorit buat yang pengen ngerti akar budaya Bali sebelum pariwisata jadi dominan. Kalau kamu suka sejarah lokal yang diceritain dengan hangat, wajib nyobain baca!
Membuka lembaran 'Bali Tempo Doeloe' seperti menyelami mesin waktu yang membawa kita ke era sebelum mass tourism mengubah wajah Pulau Dewata. Buku ini menghadirkan potret Bali abad ke-19 hingga awal ke-20 melalui catatan perjalanan antropologis, foto-foto langka, dan dokumen kolonial yang memikat.
Yang membuatnya istimewa adalah bagaimana penulis merangkai fragmen sejarah menjadi narasi hidup tentang kehidupan sehari-hari masyarakat Bali klasik - dari sistem irigasi subak, hierarki sosial, hingga ritual yang nyaris punah. Ada semacam nostalgia yang terasa autentik ketika membaca deskripsi tentang pura-pura yang masih sepi sebelum menjadi objek wisata, atau pasar tradisional dimana barter masih menjadi praktik umum.
Mencari karya Sujiwo Tejo dalam format digital memang seperti berburu harta karun—beberapa judul memang sudah bisa ditemukan, tapi belum semua tersedia. Aku sempat mengobrol dengan teman-teman di komunitas literasi digital, dan mereka bilang judul seperti 'Negeri Para Bedebah' atau 'Godlob' kadang muncul di platform e-book lokal seperti Gramedia Digital. Tapi tetap saja, koleksinya belum selengkap versi fisik. Rasanya seperti ada yang kurang ketika tidak bisa mengoleksi sampul bukunya yang selalu artistik itu, tapi setidaknya e-book memudahkan untuk dibaca di kereta atau saat lampu kamar redup.
Kalau mau eksplor lebih jauh, aku sarankan cek langsung ke akun media sosial penerbit atau grup diskusi penggemar Tejo. Mereka sering bagi info terbaru soal konversi digital. Siapa tahu suatu hari nanti semua karyanya bisa kita baca dengan satu ketuk jari.
Aku termasuk orang yang suka baca e-book karena lebih praktis dibawa ke mana-mana. Untuk cerita dicoliin, beberapa judul memang sudah tersedia dalam format digital. Misalnya 'Dicoliin: The Beginning' bisa ditemukan di platform seperti Google Play Books atau Amazon Kindle. Aku pernah membelinya dengan harga cukup terjangkau, sekitar setengah dari versi fisiknya.
Tapi memang tidak semua seri dicoliin sudah di-ebookkan. Beberapa volume lama masih harus dicari versi cetaknya di toko buku bekas. Kalau mau cari yang lengkap, kadang harus telusuri situs penerbit resminya atau grup komunitas penggemar yang sering berbagi info terbaru. Yang jelas, tren e-book untuk cerita semacam ini semakin berkembang, jadi kemungkinan besar akan semakin banyak pilihan ke depannya.