Share

Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan
Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan
Penulis: Madamme Yellow

Bab 1 Sentuhan Pertama

Penulis: Madamme Yellow
last update Tanggal publikasi: 2026-04-08 16:50:24

“Dok, jangan kenceng-kenceng! Aku udah basah ih!”

Pintu berbunyi klik. Kunci berputar dari dalam. Seorang dokter senior melangkah masuk sambil menarik lengan seorang koas. Karin menatap mereka. Mulut Karin terbuka. Ia mengambil ancang-ancang untuk teriak dan lari.

Namun tiba-tiba, tanpa ia sadar, seorang pria tampan dan tegap tiba-tiba menarik pinggang Karin. Tangan pria itu membekap mulut Karin dan tubuhnya menekan tubuhnya. Mereka berhimpitan dan berpelukan.

“Shhhhhttt jangan lari!” bisik Arlan, nama pria itu.

Sontak saja Karin makin gelagapan, pria yang menahannya itu adalah Arlan Pradipta.

Tepatnya, dr. Arlan Pradipta, Sp.OG-KFER,M.Kes.

Ia terkenal dingin, selalu menyulitkan koas dan terkenal dengan kesempurnaannya.

Dan, tentu saja, semua orang tahu betapa mengerikan jika berada satu ruangan bersamanya.

Apalagi… dalam pelukannya!

“Aku sudah tidak sabar memilikimu!”

Kata-kata sang dokter senior itu segera membuat Karin sadar kembali. “I–itu, dr. Mikael…”

Dokter senior itu segera saja mencium bibir koas yang ia giring masuk. Terdengar decak dari tautan bibir mereka.

Karin menahan napas di celah balik lemari. Mata Arlan menatap wajah Karin ketika wajah wanita itu kehilangan warna. Dada Karin naik-turun menabrak dada Arlan. Keringat menetes di pelipis Karin. Tangan Arlan menetap di mulut Karin.

“Sudah, Dok! Ahhhh nanti ada orang. Dokter nakal ihhh,” ucap koas itu.

Ini sering terjadi terjadi. Orang-orang sering melakukan hal ini saat jam jaga malam di ruangan spesialis. Suara-suara desahan selalu menyela waktu istirahat Karin.

Karin mengepalkan tangan. Kukunya menekan telapak tangan.

"Sialan!" desis Karin.

Desahan terdengar.

“Ahhhh. Enak banget Dok, punya Dokter besar banget. Eumphhh!”

Tapi bukan itu yang sekarang membuat Karin bingung. Dia penderita Haphephobia dan sekarang dia bisa baik-baik saja dipeluk oleh Konsulennya.

Seharusnya perut Karin mual. Seharusnya kulitnya meremang dan napasnya tercekat akibat serangan panik, reaksi tubuhnya setiap kali kulitnya bersentuhan dengan manusia lain.

Namun, terkurung di antara dinding lemari dan dada bidang Arlan, penyakitnya itu seolah lenyap.

“Hemm, cepet banget sih padahal aku masih mau dok,” ucap koas itu setelah mereka menyelesaikan percintaan dengan cepat.

“Aku masih ada operasi malam ini, besok malam tunggu aku lagi, kita main lebih lama.”

“Oke, sayang. Muaaah.”

Setelah mereka selesai, ruangan itu kembali sepi dan tidak dikunci. Arlan cepat-cepat mengajak Karin untuk keluar dari ruangan.

“Kau tidak akan bicara tentang malam ini pada siapapun, kan?” tanya Arlan dengan ketus.

“Nggak dok,” jawab Karin sambil menggigit kuat bibirnya. Karin masih ingin selesai kuliah kedokteran dan mungkin Arlan tidak tahu, setelah ini Karin masuk stase ditempatnya.

“Bagus!”

Dengan santai Arlan meninggalkan Karin tanpa merasa berdosa mendekapnya selama itu, tubuh mereka berhimpitan, jantung mereka sama-sama berdebar dan Karin bisa merasakan itu.

“Kenapa aku nggak ketakutan dipeluk olehnya, ya?”

Karin bukan main herannya, Tidak seharusnya dia kuliah kedokteran dengan penyakit yang dideritanya seperti ini.

Haphephobia.

Orang lain mungkin menganggapnya lucu tapi tidak untuk Karin, ini seperti Bom waktu yang kapan saja bisa meledak dan membuatnya hancur.

***

“Ginekologi,” gumamnya sambil merapikan buku-buku di ruang istirahat Internal Medicine, Karin baru saja melewati stase itu dan sekarang dia harus beralih ke bagian Ginekologi. Membayangkannya saja sudah menakutkan.

Dan Karin baru saja bertemu dengan Konsulennya.

“Dia biasa aja lihat gituan, seolah gak terjadi apapun. Jangan sampai dia sama seperti dr. Mikael,” gumam Karin.

Karin memasang earphone di telinganya cepat-cepat dan berlari dari ruangan itu.

Malam ini Karin berjaga sampai pagi, dia mulai membuat daftar visit. Di stase ini, Karin harus berjuang keras. Ini adalah ujian sesungguhnya.

“Dokter, ada pasien pendarahan Dok, cuma Dokter yang lagi jaga,” ucap perawat saat Karin baru saja masuk.

Karin menelan salivanya dan melirik ke arah pasien, dia bergegas menuju ke pasien sambil bertanya ke perawat yang berjaga.

“Sejak kapan pendarahannya?” tanya Karin sambil menggunakan sarung tangan lateksnya.

“Sudah dari satu jam yang lalu Dokter,” jawab perawat dengan cepat.

“Dokter sakit banget Dokter, aku udah ngak tahan,” keluh pasien dengan keringat yang bercucuran sedangkan Karin pun ikut panik. Penyakitnya kambuh, memikirkan harus menyentuh pasien dengan tangannya, membuat Karin membeku.

Tapi kenapa, tadi dia berpelukan dengan dr. Arlan. Karin tidak mempermasalahkan itu.

“Dokter kenapa kau diam? Anakku sudah kesakitan!” Teriak orang tua pasien.

Karin tidak ada pikiran untuk menyentuh organ intim pasien karena Karin sudah mulai gemetar, dia panik, gelisah dan berkeringat hebat. Berulang kali Karin melirik ke perawat dan perawat juga merasa bingung dengan sikap Karin.

Karin mundur selangkah demi selangkah. Karin tidak bisa menutupi rasa paniknya, dia harus menyentuh pasien itu. Memikirkannya saja sudah membuat Karin gila.

“Aku gak bisa,” gumam Karin dalam hati.

“Aku gak sanggup, aku bener-bener gak bisa.” Karin menggigit kuat bibir bawahnya sementara pasien dan keluarganya menunggu Karin melakukan sesuatu.

“Dokter, ayoooo cepat! Sakit dokter, sakit banget. Toloongggg!!!”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 177 Harus Nakal Denganku

    “Karin, mau kemana Sayang?” Padahal Karin sudah siap ke apartemen Arlan, mereka janjian di sana tapi malah tertangkap basah oleh Maminya. Karin pikir tadi tidak ada orang di rumah, ternyata ada Maminya. “Club Mi, bentar doang. Cari hiburan, suntuk di rumah. Silvi nunggu di sana,” jawab Karin santai sambil merapikan make up nya. Ia menggunakan pakaian super seksi malam ini karena ingin bertemu dengan Arlan. Arlan ingin mengajarkan cara lain menikmati gairah meskipun sedang datang bulan. Karin tidak menolak! “Jam berapa ini Sayang? Udah mau jam satu malam.” Club memang belum tutup jam satu malam. Malah sedang ramai-ramainya. “Mi, Karin tu capek mikir belajar terus. Mami aja butuh hiburan, masa Karin gak sih?” Karin hanya mengimbangi keluarganya saja. Rumah ini hidup sendiri-sendiri, punya cara masing-masing dalam menikmati hidup, begitu juga Karin. Ia tidak mau dilarang, Karin tidak pernah melarang orang tuanya untuk tidak melakukan ini itu. Mereka bebas, bebas juga menyakiti ha

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 176 Bantu Memuaskanmu

    “Sorry ya, ngerepotin. Aku gak tau kalau supirku gak bisa jemput, anaknya sakit.” Arlan mengantar Renata langsung ke rumahnya, dulu Arlan sering sekali main ke rumah ini. “Oke gak masalah, aku langsung pulang karena besok pagi ada operasi, jadi harus cepat istirahat.” “Hemm oke.” Renata melambaikan tangannya dan melihat kepergian Arlan dari jauh. Meskipun ia dan Arlan bisa ngobrol tapi memang tidak romantis seperti dulu. Arlan sangat dingin, seperti menganggap ia orang asing padahal katanya Arlan belum punya pasangan. Renata pikir Arlan masih sakit hati dan menunggunya. Sambil mengemudikan mobilnya, Arlan menghubungi Karin tapi Karin tidak menjawab ponselnya. Mereka janjian di kamar hotel, meskipun Karin masih datang bulan tapi bukan berarti mereka tidak bisa mesraan apalagi ada kesempatan. “Sayang kamu di hotel?” Karin tidak membalas pesannya, tadi ponsel Karin sempat tidak aktif, sekarang sudah menyala lagi tapi belum dibaca. Arlan hubungi berapa kali, Karin juga tidak membal

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 175 Besok Saja Bercintanya Kalau Tidak Mau Hari Ini

    Fix punya pacar tiga! Ya ampun, satu saja hidupnya susah sekarang Karin punya tiga pacar. Bagaimana menghadapi hidupnya saat ini? Semua pacarnya mesum dan suka menciumnya. Jujur saja sebagai wanita yang lemah, Karin tidak berdaya untuk menolak. Hanya ciuman! Bunyi kecupan bibir terdengar begitu menggairahkan, Karin dan Diego berciuman mesra di sofa mewah apartemen Diego. Meskipun ponsel Karin berdering tapi Karin tidak ingin menghentikan ciumannya. Karin juga sedang kesal karena Arlan bertemu dengan mantan kekasihnya dan orang itu ternyata sudah janda. Baguslah! Siapa tahu burung Arlan terpuaskan oleh janda itu. Ia juga sedang datang bulan, makanya Arlan lebih memilih mengantar Renata daripada menunggunya di kamar hotel.Salah Arlan sendiri, makanya sekarang Karin bersama dengan Diego. “Enak banget Baby,” bisik Diego dengan suara seraknya di telinga Karin. Sayangnya Karin datang bulan, kalau saja tidak. Mungkin mereka bisa bermain di ranjang. “Sejak istri kamu meninggal, gimana

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 174 Terjebak Lebih Dalam

    “Boleh dok, dokter aja yang bawa mobil. Aku duduk di belakang ….” “Eits, jangan dong!” Karin panik bukan main. Silvi membiarkan ia duduk di depan sedangkan ia seperti majikan duduk di belakang. Memang sialan! Punya teman satu tapi brengsek. “Gak apa gak apa, aku di belakang. Tanganku juga lagi sakit.” Bohong sekali! Karin mengumpat dalam hati sambil melirik Silvi dengan tatapan membunuhnya. Kekesalan Karin pada sahabatnya ini sudah memuncak. Silvi selalu punya cara mendekati Diego dengan Karin padahal tahu kalau Karin sudah punya kekasih.“Mau diantar ke mana?” tanya Diego setelah mobil mereka jalan. “Ke-ke apartemen aja,” jawab Silvi. “Lah kok?” Karin bingung, ini mobil Silvi. Ia baru beli mobil. Kenapa sekarang mereka justru di antar ke apartemen. Katanya tadi mau menginap di rumahnya. “Mobilnya baru?” tanya Diego sambil melirik Silvi dari belakang. “I-iya dok.” Jangan-jangan, Silvi membeli mobil ini pakai uang Diego. Wanita ini yang menipu Diego bukan Karin. Apa Karin

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 173 Simalakama

    “dr. Renata ternyata janda,” bisik Silvi. Ia baru saja mendapatkan kabar itu dari dokter yang mengikuti acara. Jantung Karin rasanya seperti ada yang meremas.Takut tapi harus merelakan. Apa mungkin wanita ini yang bisa memisahkan mereka? “Kayaknya dr. Arlan juga suka banget ngomong dengan dr. Renata, dari tadi juga ia menatap mata kalau ngomong dengan mantannya,” lanjut Silvi membuat Karin panas. Memang itu gosip tapi terdengar seperti kompor di telinga Karin. Namun, Karin tahankan saja mendengar gosip ini untuk mendapatkan semua kisah masa lalu Arlan yang tidak pernah diceritakan pria itu padanya. “dr. Arlan memang gitu gak sih, kalau ngomong sama lawan bicara pasti natap matanya,” sanggah Karin. Karin tidak terima dengan apa yang Silvi katakan, sepertinya itu biasa saja tidak spesial. Karin bahkan ditatap begitu lekat kalau mereka di ranjang. Ah, kenapa jadi cemburu? “Gak ah, mana pernah. Dia kalau ngomong sambil melihat laporan,” jawab Silvi. Tidak terasa acara selesai di

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 172 Janda Baru Mulai Merapat

    “Katanya ada mantan dr. Arlan di ruangan, kamu lihat gak?” tanya Silvi saat mereka di dalam lift. “Hemm, beneran?” “Kata orang, aku juga gak tau. Kamulah tanya dengan dr. Arlan, bener apa gak?” Karin tidak berani bertanya hal seperti itu. Kecuali kalau Arlan sendiri yang cerita. Selama ini mereka tidak pernah membahas masa lalu atau cinta lalu yang pernah ada. Karin juga tidak kepo terhadap hidup Arlan yang sudah berlalu atau yang saat ini sedang berjalan. “Cantik juga Rin, orangnya ramah banget, senyum terus dan kayaknya lembut. Apa udah nikah?” Karin mengedikkan bahunya, ia juga tidak tahu. Mengingat umur Arlan yang sudah matang, bisa saja mantan kekasihnya sudah menikah. Teman-teman Arlan saja banyak yang sudah menikah. Hanya Arlan yang betah jomblo. Diego saja seorang duda. Makanya banyak yang bergosip kalau dr. Arlan suka sesama jenis padahal hanya Karin yang tahu betapa gagahnya Arlan di ranjang. “Kira-kira mereka putus, kenapa ya?” Karin tidak tahu dan tidak ingin tahu

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 7 Godaan Kecil

    “Makasih dokter,” jawab Karin dengan senyum yang dibuat-buat. Karin tidak tertarik sama sekali untuk ikut mandi dengan dr. Arlan meskipun sepertinya tubuh dr. Arlan atletis seperti yang Karin mau. “Aku pikir kita bisa mencobanya,” jawab Arlan dengan tawanya yang mengejek. Tidak lucu! Sungguh! K

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 6 Rasanya Enak

    Bodohnya, gumam Karin dalam hati. Ia tidak bisa memasak dan Karin juga tidak bisa menolak permintaan aneh Arlan untuk menjadi pembantu gratisnya hari ini. Di dalam mobil, Karin hanya diam terpaku menatap jalan yang sedikit lenggang. Arlan yang duduk di sampingnya juga tidak menyapanya atau bert

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 5 Pelajaran Di Apartemen

    “Sentuh denyut nadimu sendiri. Rasakan dan catat ritme jantungmu setiap kali pikiranmu mengingat wajahku.”Efek psikologis dari "PR" Arlan mulai meracuni pikiran Karin. Saat morning report, Karin kehilangan fokus.Seperti biasa, Karin mengumpulkan laporan visit-nya sebelum pulang. Ada dr. Dimas di

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 4 Lepaskan Pakaianmu

    “Ta-tapi, Dok?”Karin enggan melepaskan snelli yang digunakannya. Di balik jas itu ia memakai long tube, pakaian jenis kemben yang menggantung sedikit panjang. Karin suka pakaian seperti itu. Namun ia sadar, tidak mungkin melepaskan snelli miliknya saat berjaga.“Kenapa?” Arlan merasa tidak perlu a

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status