مشاركة

Bab 2 Panggilan Pertama

مؤلف: Madamme Yellow
last update تاريخ النشر: 2026-04-08 16:55:41

Tiba-tiba, dr. Arlan Pradipta datang. Rahangnya mengeras. Sorot matanya menyapu ruangan tanpa ekspresi empati sedikit pun.

“Apa ini? Kenapa kau diam saja,” ucap Arlan sambil menatap tajam Karin. Koas ini mematung dengan tangannya yang gemetaran.

“Lakukan! Periksa apa yang terjadi pada pasien,” bisik Arlan tegas, tapi itu seperti perintah yang tidak bisa ditolak oleh Karin.

Karin menarik napas dalam, menelan salivanya dan dengan dua jarinya pelan-pelan masuk ke inti dalam wanita itu tapi Karin malah berkeringat hebat dan menggelengkan kepalanya.

“Dok,” bisik Karin dengan suara serak dan menatap sayu mata Arlan.

dr. Arlan langsung mengambil alih prosedur dengan cepat dan presisi, menenangkan pasien dalam hitungan detik.

“Ngak berguna,” gumam Arlan sambil melirik Karin yang mematung disampingnya, setelah menyelesaikan pemeriksaan dan membuat pendarahan pasien terkendali.

Saat mencuci tangan, tanpa meninggikan suara sedikit pun, Arlan masih menatap tajam tangan koasnya yang masih bergetar di udara.

"Kau menyentuh pasien seolah tubuh mereka adalah sesuatu yang menjijikkan. Tangan pengecut itu tidak punya tempat di departemen saya.”

Arlan berbicara dengan tegas di depan Karin, Karin hanya menunduk karena tahu ia salah dan malam ini, tidak!

Bukan hanya malam ini, ia akan menjadi gosip di rumah sakit karena tidak bisa mengambil tindakan terhadap pasien gawat darurat. Sedangkan ia harus memiliki nilai yang bagus untuk lulus.

“Kau tidak mungkin lulus di bagian saya!”

Saat ruangan tinggal mereka berdua, Arlan mencoret dengan pulpen merah lembar evaluasi Karin, menyudutkannya ke meja periksa logam, dan memberikan satu-satunya jalan keluar.

“Dokter, tolong! A-aku bukan gak mau ta-tapi ….”

“Tapi apa?”

Karin tidak bisa melanjutkan kata-katanya, matanya merah dan wajah cantiknya memucat. Dia harus lulus, Karin sudah terlanjur memilih kedokteran dan ia harus memastikan menjadi seorang Dokter dan tamat tepat waktu.

“Itu hanya hal sepele Karin, saya tidak memintamu untuk membantu persalinan atau lebih dari itu, hanya pemeriksaan bimanual dan itupun kau tidak mampu.”

Arlan menatapnya tanpa rasa iba sedikitpun, bahkan Karin yang biasanya tegar, malam ini tiba-tiba meneteskan air matanya.

“Kau cantik tapi tidak ada otak, kau tidak mengerti atau kau belum belajar semua itu?” tanya Arlan.

Mendengar itu, Karin tidak terima, “Maksud Dokter, saya bodoh, gitu?”

Karin mengepalkan tangan. Ia tidak seperti itu, ia sudah berusaha semaksimal mungkin dan Arlan tidak tahu kalau penyakitnya kambuh lagi.

Arlan terdiam. Ia seperti mencerna kembali kata-kata yang sebelumnya ia lontarkan.

"Datang ke klinik pribadiku jam sembilan malam ini untuk belajar 'menyentuh' anatomi dengan benar, atau kemasi barangmu dari rumah sakit ini besok pagi.”

Arlan menatap lekat mata Karin, wanita ini masih gemetaran dan sesaat setelah itu, Arlan meninggalkan Karin sendirian dengan pikiran yang masih melayang.

“Ke ruangannya?”

Apa yang akan dilakukan dr. Arlan padanya, sudah tentu tidak mungkin hal negatif karena Dokter itu sangat terkenal tidak peduli dengan koas-koas di rumah sakit itu, tidak ada yang mendapatkan nilai terbaik saat menghadapi dr. Arlan.

Tapi, ia dan Arlan pernah terlibat sesuatu rahasia yang menegangkan. Bukan tidak mungkin juga Arlan melakukan hal yang tidak pantas dengannya.

“Apa dia akan membuatku keluar dari rumah sakit ini?” tanya Karin dalam hati. Karin diam sambil menulis laporan dan pikirannya tidak tenang, matanya terus tertuju ke arah jam tangannya.

Sambil berpikir keras, Karin melewati koridor rumah sakit hingga sampai ke ruang istirahat.

“Hei, melamun aja.” Silvi menyapanya tiba-tiba. Sahabat Karin dan juga Koas di rumah sakit yang sama.

“Kenapa? Tadi aku dengar dari perawat yang jaga, dr. Arlan marah sama kamu?” tanya Silvi dan Karin mengangguk pasrah.

“Ada gak ya yang nggak lulus di stase ini, Sil?” tanya Karin.

“Banyak banget,” jawab Silvi.

Karin semakin takut. Kali ini tamat riwayatnya.

“Mau ke mana?” tanya Silvi. Karin tiba-tiba saja ingin meninggalkannya sendirian sedangkan malam ini banyak pasien yang datang.

“Ke ruangan dr. Arlan sebentar. Tadi dia minta aku datang ke sana,” jawab Karin.

“Rin, hati-hati loh.” Sebelum sempat keluar dari ruangan, Silvi menarik tangan Karin.

“Aku tau Sil, gak mungkin. Dia itu bukan kayak dr. Mikael,” jawab Karin.

Meskipun dr. Mikael sudah terkenal mesum tapi Silvi juga tidak tahu, apa yang dihadapi Karin dan Arlan sebelumnya. Karin belum menceritakan masalah ini dengan sahabatnya itu.

Silvi menggelengkan kepala dan tidak percaya, untuk apa Arlan memanggil Karin berduaan ke ruangannya dan malam lagi.

"dr. Arlan juga pria dewasa dan belum ada yang memastikan kalau dia gak suka cewek, Rin."

Benar juga!

"Udahlah tenang aja, aku ke sana dulu, takut telat, aku takut dia marah." Karin melepaskan tangan Silvi dan berlari menuju ruangan klinik pribadi Arlan. Arlan sudah tidak lagi menerima pasien di jam ini.

Begitu sampai di depan pintu, Karin merapikan dulu pakaiannya. Karin tahu kalau ia berantakan sekali.

"Astaga, Karin kemana otakmu, Rokmu itu ...." Karin mengutuk dirinya sendiri.

Karin menelan salivanya, menutup matanya pelan sebelum mengetuk pintu klinik pribadi dokter dingin itu.

“Semoga aja dr. Arlan maafin aku,” ucap Karin sambil mengusap dadanya. Kenapa juga ia begitu seksi malam ini, padahal sudah ada peraturan tidak boleh menggunakan rok di atas lutut.

“Apa aku ganti rok dulu?”

Karin melihat jam, sudah tidak sempat lagi. Ia harus pergi atau Ia akan menyesal seumur hidup.

Tok! Tok!

Karin mengetuk pintu Arlan setelah ia rapi dan kembali segar. Tidak ada yang bisa menolak pesona Karin, setidaknya Karin memiliki wajah yang cantik di antara semua koas bahkan dokter di rumah sakit ini.

“Masuklah!”

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 177 Harus Nakal Denganku

    “Karin, mau kemana Sayang?” Padahal Karin sudah siap ke apartemen Arlan, mereka janjian di sana tapi malah tertangkap basah oleh Maminya. Karin pikir tadi tidak ada orang di rumah, ternyata ada Maminya. “Club Mi, bentar doang. Cari hiburan, suntuk di rumah. Silvi nunggu di sana,” jawab Karin santai sambil merapikan make up nya. Ia menggunakan pakaian super seksi malam ini karena ingin bertemu dengan Arlan. Arlan ingin mengajarkan cara lain menikmati gairah meskipun sedang datang bulan. Karin tidak menolak! “Jam berapa ini Sayang? Udah mau jam satu malam.” Club memang belum tutup jam satu malam. Malah sedang ramai-ramainya. “Mi, Karin tu capek mikir belajar terus. Mami aja butuh hiburan, masa Karin gak sih?” Karin hanya mengimbangi keluarganya saja. Rumah ini hidup sendiri-sendiri, punya cara masing-masing dalam menikmati hidup, begitu juga Karin. Ia tidak mau dilarang, Karin tidak pernah melarang orang tuanya untuk tidak melakukan ini itu. Mereka bebas, bebas juga menyakiti ha

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 176 Bantu Memuaskanmu

    “Sorry ya, ngerepotin. Aku gak tau kalau supirku gak bisa jemput, anaknya sakit.” Arlan mengantar Renata langsung ke rumahnya, dulu Arlan sering sekali main ke rumah ini. “Oke gak masalah, aku langsung pulang karena besok pagi ada operasi, jadi harus cepat istirahat.” “Hemm oke.” Renata melambaikan tangannya dan melihat kepergian Arlan dari jauh. Meskipun ia dan Arlan bisa ngobrol tapi memang tidak romantis seperti dulu. Arlan sangat dingin, seperti menganggap ia orang asing padahal katanya Arlan belum punya pasangan. Renata pikir Arlan masih sakit hati dan menunggunya. Sambil mengemudikan mobilnya, Arlan menghubungi Karin tapi Karin tidak menjawab ponselnya. Mereka janjian di kamar hotel, meskipun Karin masih datang bulan tapi bukan berarti mereka tidak bisa mesraan apalagi ada kesempatan. “Sayang kamu di hotel?” Karin tidak membalas pesannya, tadi ponsel Karin sempat tidak aktif, sekarang sudah menyala lagi tapi belum dibaca. Arlan hubungi berapa kali, Karin juga tidak membal

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 175 Besok Saja Bercintanya Kalau Tidak Mau Hari Ini

    Fix punya pacar tiga! Ya ampun, satu saja hidupnya susah sekarang Karin punya tiga pacar. Bagaimana menghadapi hidupnya saat ini? Semua pacarnya mesum dan suka menciumnya. Jujur saja sebagai wanita yang lemah, Karin tidak berdaya untuk menolak. Hanya ciuman! Bunyi kecupan bibir terdengar begitu menggairahkan, Karin dan Diego berciuman mesra di sofa mewah apartemen Diego. Meskipun ponsel Karin berdering tapi Karin tidak ingin menghentikan ciumannya. Karin juga sedang kesal karena Arlan bertemu dengan mantan kekasihnya dan orang itu ternyata sudah janda. Baguslah! Siapa tahu burung Arlan terpuaskan oleh janda itu. Ia juga sedang datang bulan, makanya Arlan lebih memilih mengantar Renata daripada menunggunya di kamar hotel.Salah Arlan sendiri, makanya sekarang Karin bersama dengan Diego. “Enak banget Baby,” bisik Diego dengan suara seraknya di telinga Karin. Sayangnya Karin datang bulan, kalau saja tidak. Mungkin mereka bisa bermain di ranjang. “Sejak istri kamu meninggal, gimana

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 174 Terjebak Lebih Dalam

    “Boleh dok, dokter aja yang bawa mobil. Aku duduk di belakang ….” “Eits, jangan dong!” Karin panik bukan main. Silvi membiarkan ia duduk di depan sedangkan ia seperti majikan duduk di belakang. Memang sialan! Punya teman satu tapi brengsek. “Gak apa gak apa, aku di belakang. Tanganku juga lagi sakit.” Bohong sekali! Karin mengumpat dalam hati sambil melirik Silvi dengan tatapan membunuhnya. Kekesalan Karin pada sahabatnya ini sudah memuncak. Silvi selalu punya cara mendekati Diego dengan Karin padahal tahu kalau Karin sudah punya kekasih.“Mau diantar ke mana?” tanya Diego setelah mobil mereka jalan. “Ke-ke apartemen aja,” jawab Silvi. “Lah kok?” Karin bingung, ini mobil Silvi. Ia baru beli mobil. Kenapa sekarang mereka justru di antar ke apartemen. Katanya tadi mau menginap di rumahnya. “Mobilnya baru?” tanya Diego sambil melirik Silvi dari belakang. “I-iya dok.” Jangan-jangan, Silvi membeli mobil ini pakai uang Diego. Wanita ini yang menipu Diego bukan Karin. Apa Karin

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 173 Simalakama

    “dr. Renata ternyata janda,” bisik Silvi. Ia baru saja mendapatkan kabar itu dari dokter yang mengikuti acara. Jantung Karin rasanya seperti ada yang meremas.Takut tapi harus merelakan. Apa mungkin wanita ini yang bisa memisahkan mereka? “Kayaknya dr. Arlan juga suka banget ngomong dengan dr. Renata, dari tadi juga ia menatap mata kalau ngomong dengan mantannya,” lanjut Silvi membuat Karin panas. Memang itu gosip tapi terdengar seperti kompor di telinga Karin. Namun, Karin tahankan saja mendengar gosip ini untuk mendapatkan semua kisah masa lalu Arlan yang tidak pernah diceritakan pria itu padanya. “dr. Arlan memang gitu gak sih, kalau ngomong sama lawan bicara pasti natap matanya,” sanggah Karin. Karin tidak terima dengan apa yang Silvi katakan, sepertinya itu biasa saja tidak spesial. Karin bahkan ditatap begitu lekat kalau mereka di ranjang. Ah, kenapa jadi cemburu? “Gak ah, mana pernah. Dia kalau ngomong sambil melihat laporan,” jawab Silvi. Tidak terasa acara selesai di

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 172 Janda Baru Mulai Merapat

    “Katanya ada mantan dr. Arlan di ruangan, kamu lihat gak?” tanya Silvi saat mereka di dalam lift. “Hemm, beneran?” “Kata orang, aku juga gak tau. Kamulah tanya dengan dr. Arlan, bener apa gak?” Karin tidak berani bertanya hal seperti itu. Kecuali kalau Arlan sendiri yang cerita. Selama ini mereka tidak pernah membahas masa lalu atau cinta lalu yang pernah ada. Karin juga tidak kepo terhadap hidup Arlan yang sudah berlalu atau yang saat ini sedang berjalan. “Cantik juga Rin, orangnya ramah banget, senyum terus dan kayaknya lembut. Apa udah nikah?” Karin mengedikkan bahunya, ia juga tidak tahu. Mengingat umur Arlan yang sudah matang, bisa saja mantan kekasihnya sudah menikah. Teman-teman Arlan saja banyak yang sudah menikah. Hanya Arlan yang betah jomblo. Diego saja seorang duda. Makanya banyak yang bergosip kalau dr. Arlan suka sesama jenis padahal hanya Karin yang tahu betapa gagahnya Arlan di ranjang. “Kira-kira mereka putus, kenapa ya?” Karin tidak tahu dan tidak ingin tahu

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 5 Pelajaran Di Apartemen

    “Sentuh denyut nadimu sendiri. Rasakan dan catat ritme jantungmu setiap kali pikiranmu mengingat wajahku.”Efek psikologis dari "PR" Arlan mulai meracuni pikiran Karin. Saat morning report, Karin kehilangan fokus.Seperti biasa, Karin mengumpulkan laporan visit-nya sebelum pulang. Ada dr. Dimas di

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 4 Lepaskan Pakaianmu

    “Ta-tapi, Dok?”Karin enggan melepaskan snelli yang digunakannya. Di balik jas itu ia memakai long tube, pakaian jenis kemben yang menggantung sedikit panjang. Karin suka pakaian seperti itu. Namun ia sadar, tidak mungkin melepaskan snelli miliknya saat berjaga.“Kenapa?” Arlan merasa tidak perlu a

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 3 Pelajaran Menyentuh

    Suara dr. Arlan dari dalam ruangan terdengar datar. Tangan Karin terhenti di kenop pintu. Ia menunduk menatap penampilannya. Rok yang ia kenakan menggantung di atas lutut, mengekspos paha dan kaki jenjangnya dengan jelas. Masuk ke ruangan tertutup berdua saja dengan konsulen menggunakan pakaian se

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 1 Sentuhan Pertama

    “Dok, jangan kenceng-kenceng! Aku udah basah ih!” Pintu berbunyi klik. Kunci berputar dari dalam. Seorang dokter senior melangkah masuk sambil menarik lengan seorang koas. Karin menatap mereka. Mulut Karin terbuka. Ia mengambil ancang-ancang untuk teriak dan lari. Namun tiba-tiba, tanpa ia sadar,

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status