Lirik 'cinta tidak akan pernah kembali' itu kayak tamparan dingin yang bikin merinding, tapi juga bikin ngerti. Aku sering nemuin lagu-lagu dengan tema kayak gini, dan menurutku itu nggak cuma soal putus cinta biasa. Ada nuansa penerimaan yang pahit, kayak orang yang udah capek ngejar bayangan masa lalu. Contohnya di lagu 'Someone Like You' Adele, vibe-nya mirip: nostalgia bercampur kesadaran bahwa hubungan itu udah mati.
Tapi uniknya, justru karena liriknya keras kayak gitu, malah jadi cathartic. Dengernya kayak terapi—kita diingetin buat nggak hidup dalam ilusi. Kadang aku dengerin lagu begini pas lagi down, malah jadi lebih kuat. Lucu ya, musik bisa jadi temen di saat-saat kayak gitu.
Buku-buku dengan tema cinta yang hilang atau tak terbalas memang selalu menarik untuk dibaca. Salah satu yang langsung terlintas adalah 'Laut Bercerita' oleh Leila S. Chudori, yang meskipun bukan kumpulan lirik, mengandung esensi kesedihan akan cinta yang tak kembali. Ada juga 'Pulang' karya Tere Liye, di mana karakter utamanya berjuang melawan kenyataan pahit tentang cinta yang sudah pergi.
Kalau mencari sesuatu yang lebih eksplisit, mungkin perlu menyelami antologi puisi atau karya sastra klasik. Sapardi Djoko Damono sering mengeksplorasi tema ini dalam puisinya, seperti 'Hujan Bulan Juni'. Atau mungkin 'Ronggeng Dukuh Paruk' karya Ahmad Tohari, di mana ada elemen tragis tentang cinta yang musnah.
Ada momen dalam hidup di mana perasaan itu begitu kuat, sampai rasanya mustahil untuk diabaikan. Cinta yang 'tidak mungkin' sering muncul justru dalam situasi di mana kita paling rentan—saat jarak memisahkan, saat waktu tidak berpihak, atau saat perbedaan terlalu besar untuk dijembatani. Tapi justru di situlah keajaibannya: ketika kita tetap memilih untuk merasakannya, meski tahu itu mungkin takkan terwujud.
Kenyataannya, cinta seperti ini nyata karena ia meninggalkan bekas yang dalam. Bukan tentang apakah hubungan itu bertahan, tapi bagaimana ia mengubah cara kita melihat dunia. Seperti dalam 'Your Lie in April', Kousei dan Kaori tahu akhirnya pahit, tapi musik mereka abadi. Begitulah cinta yang 'mustahil'—ia hidup dalam kenangan, pelajaran, dan fragmen-fragmen kecil yang terus kita bawa.