Suami Adikku Memuja Rahimku
Silver Swankering sudah air matakukata kata dibalik senyumkusenyuman terlukis di wajahkutampar aku di pipi
Aku menunggu hingga kerumunan sedikit berkurang, memposisikan diriku sebagai kakak yang tahu diri, yang memberikan panggung sepenuhnya pada sang adik tercinta.
Rena, ibu tiri yang kini menyandang gelar Nyonya Djayadi dengan bangga, berjalan melewatiku. Ia tampil memukau dengan kebaya sutra berwarna senada dengan Nadira. Saat mata kami bertemu, ia memberikan tatapan peringatan yang tajam-sebuah pengingat akan tamparan tadi. Aku hanya menunduk takzim, menunjukkan leherku yang seolah rapuh.
Aku melangkah perlahan mendekati area kuade, tempat Nadira dan Shaka kini berdiri berdampingan di depan backdrop bunga. Lampu sorot diarahkan penuh ke sana.