Rindu yang Lupa
“Tapi aku sangat membencinya, aku kurang yakin jika kakakmu sehebat itu. Di mataku ia gadis konyol menyebalkan, bicara semau diri tak tahu sopan santun dan...”
“Karena kau laki-laki.” Kata Caca seketika, membiarkan kalimat Akhtar terpotong.
“Apa hubungannya?”
Caca hendak menjawab, sayang perhatiannya teralihkan pada dering ponselnya. Jemarinya dengan gesit menjawab. Suara serak terdengar jelas. Ada air mata tak kasap, ada ketakutan bercampur dengan kesepian. Ada hilang yang tak akan pernah ketemu. Ada gulungan rindu yang mendadak terburai. Senja itu dilinangi pertanyaan-pertanyaan sangsi kepada Tuhan. Jiwa Caca nanar, cairan hangat muntah, membasahi pipinya, menghamburkan keceriaannya.
Capítulos Populares