Air Mata di Antara Bunga
Galih hanya bisa menghela napas panjang, lalu memerintahkan orang-orang untuk segera mencari.
Rangga sendiri terduduk di sofa, berkali-kali menekan nomor Vanya. Namun hasilnya sama—ponselnya tetap mati.
Sampai akhirnya, Galih-lah yang menyadari sesuatu yang janggal.
“Kalau nggak salah, di rumah ini ada boneka beruang besar, ‘kan? Sekarang… di mana boneka itu?”
Rangga mendongak, baru sadar. Boneka beruang yang biasanya ada di tengah ruang tamu, benar-benar menghilang.