Satu Atap dengan Pria Dingin
Tak berhenti di situ, jari-jari Rafsen yang berukuran besar dengan perlahan menurunkan batas celana kain yang dipakai Avena.
Avena menggigit bibirnya kuat-kuat, tangannya meremas seprai kasur hingga buku-buku jarinya memutih. Rasa malu yang luar biasa menjalar ke seluruh tubuhnya saat merasakan hawa dingin menerpa area pinggul bawahnya.
"Benar, kan, memar biru."
Pria itu mengoleskan salep di telapak tangannya, lalu perlahan menempelkan telapak tangan hangatnya ke kulit pinggul Avena yang memar.