Exit
Masih kesal karena rasa kaget tadi menciptakan degub jantung berdebar, sudah seperti ketika crush atau doi mengirim pesan berkabar akan jumpa mengungkap rasa.
“Aduh, sakit.” April baru saja mencubit pelan lenganku, aku tertawa demi melihat raut muka April yang cemberut, terlipat jadi beberapa bagian, keningnya ikut mengekerut, bibirnya dimajukan dua senti.
“Kamu, tuh, ya, Olin.”
“Maskudnya tuh, sorak sorai karena tampilanmu memukau pasang mata, Pril.” Aku berhenti tertawa, berhasil membuat April kesal sekali saja sudah cukup menyenangkan bagiku.
Chapitres populaires