Tolong Perlahan, Dokter Nate!
“Kau telat, Nona... delapan menit.”
Nada suaranya tenang, tapi tajam seperti garis waktu yang tak bisa diganggu.
Ariel berusaha menampilkan senyum manis—senyum yang sering menyelamatkannya dalam banyak situasi, termasuk ketika dosen pembimbing dulu hampir mencoret namanya dari daftar sidang.
“Maaf, Dok... aku tadi ada urusan mendadak.”
Nathan tidak langsung menjawab. Ia hanya menatapnya datar, lama, seperti sedang menimbang apakah keterlambatan delapan menit layak mendapat vonis atau pengampunan.