Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
Mayat di Atas Ranjang

Mayat di Atas Ranjang

“Ah, sudahlah enggak usah dibahas. Apa-apan, sih, malah ngomongin soal senyuman.” “Tapi, bukanya kamu yang mulai mengalihkan pembicaraan? Aku jadi penasaran dengan maksudmu. Ada apa dengan senyumanku? Kenapa iblis sepertiku tidak boleh tersenyum?” “Cih! Barangkali ini hanya imajinasiku saja,” ujar Hendi, “ya, pasti benar begitu, hanya imajinasiku. Asal kau tahu saja, wahai perempuan iblis, kau tadi terlihat sangat menjijikan! Kau tersenyum seperti orang bodoh yang sedang jatuh cinta.”
102.9K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 106 kali sebagai devilish smile
Baca
+Pustaka
Dangerous Feeling

Dangerous Feeling

Ia menindihku, mencoba menarik kedua tanganku dan mengunci dengan tangannya yang kuat, aku hanya terisak di dalam dekapannya, sungguh bukan ini yang aku harapkan. “ Jangan melawan sayang, nikmati saja ok “ ujarnya tersenyum devil, ka Raven mulai mencium bibirku lagi, kali ini rasanya begitu lembut, hingga aku mulai terbuai dengan permainan lidahnya di dalam mulutku, manis. Itu lah rasanya “ hmm “ aku mendesah pelan, nafasku seolah tercekat, kak Raven yang mengerti pun akhirnya melepaskan pagutan diantara kami
103.5K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 133 kali sebagai devilish smile
Baca
+Pustaka
I Love You, Mr. Devil!

I Love You, Mr. Devil!

Nathan menyunggingkan senyum sinisnya ketika melihat wanita bersurai coklat itu yang kini diam tak meronta seperti tadi. "Bagus. Aku sangat menyukai jalang yang penurut," gumannya sambil menyapukan lidahnya di sepanjang sisi kiri wajah Amanda, mengabaikan ekspresi jijik wanita itu. "Rasa wanitanya Kairo Aldevara lezat sekali. Hargamu akan sangat mahal, Sayang. Aku sangat yakin pelayananmu di ranjang juga pasti fenomenal!"
1011.5K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 265 kali sebagai devilish smile
Baca
+Pustaka
Idola Ranjang

Idola Ranjang

Kini, pria itu tetap dalam keterdiamannya dengan nafas yang teratur. "Morning ... Mr Devil, " ucap Flower sambil terkekeh lalu mengusap wajah Alex lembut. "tuan iblis, yang biasanya selalu berkuasa di atas tubuh ku ini, kini hanya asyik dengan ranjangnya saja. Hahaha ... Ini sebuah keajaiban. Anggap saja semua ini terapi untukmu, agar mengurangi kadar kemesumanmu yang sudah berada pada level tertinggi itu ..." Flower terkikik geli.
1029.5K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 915 kali sebagai devilish smile
Baca
+Pustaka
THE DEVIL WIFE

THE DEVIL WIFE

Membelitkan lidahnya memenuhi rongga mulut Gaby. Gaby yang dalam keadaan terangsang langsung membalas perlakuan Revan. "Bitch!" bisik Revan dengan seringai miringnya. Gaby sudah dalam keadaan di antara sadar dan tidak. Batas kewarasannya hilang terganti dengan gairah yang menggebu. Tubuhnya sudah terbakar dan Gaby ingin segera dirasuki.
8.821.2K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 531 kali sebagai devilish smile
Baca
+Pustaka
Devil (Indonesia)

Devil (Indonesia)

Aku menepuk bahunya, “kau devilnya ingat!” “Give me a kiss!” Ucapnya memohon.
1038.5K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 1.2K kali sebagai devilish smile
Baca
+Pustaka
Detective Devil

Detective Devil

Bukan main mulut iblis itu mulai bekerja dengan lihainya menjerat hati wanita dengan kata-kata manisnya. Luar biasa mendengar rayuan genit keluar dari mulut Berlin, membuat Cologne serasa ingin memuntahkan isi perutnya tepat di jas yang sedang digunakan oleh iblis tersebut. "Berhenti merayu dan cepat pergi dari sini!" Cologne menyeret Berlin dengan paksa sebelum iblis itu mulai berulah kembali. *** Tidak ada yang merasa heran ataupun aneh saat melihat kedatangan Berlin sebagai rekan kerja Cologne yang baru. Semuanya terlihat seolah-olah telah diatur dengan sempurna oleh iblis bernama Berlin tersebut.
103.1K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 71 kali sebagai devilish smile
Baca
+Pustaka
Don't Kill My Baby (Indonesia)

Don't Kill My Baby (Indonesia)

"I hate you, Devil." Devian tersenyum kecil. "I love you too, Naresha."
1022.9K DibacaTertahanDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 754 kali sebagai devilish smile
Baca
+Pustaka
The Devil Love Me!

The Devil Love Me!

“Raphael Seavey, My Devil baby tunjukkan dirimu yang sebenarnya.” --
103.9K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 94 kali sebagai devilish smile
Baca
+Pustaka
The Devil's Gift

The Devil's Gift

Raveena berkata, “Saya tidak tahu harus mengkategorikan Anda sebagai hitam atau putih. Moralitas yang Anda tunjukkan tidak sepenuhnya biadab, tapi tidak sepenuhnya baik.” Cerano menyandarkan punggungnya ke dinding, lalu melipat kedua tangannya di depan dada. “Mengapa begitu?” “Awalnya saya berpikir Anda adalah seorang iblis keji yang senang dengan kekerasan dan pembunuhan. Namun, hari ini saya melihat Anda terlihat tidak suka dengan Tuan Wilson karena dia menjajakan wanita di bawah umur. Saya juga berpikir Anda akan memanfaatkan tubuh saya, tapi Anda berkata hanya minta ditemani,” jelas Raveena.
106.1K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 220 kali sebagai devilish smile
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
123456
...
10

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Man, I've gotta say, interpreting that smirk as purely sadistic misses some key groundwork from earlier chapters. The protagonist isn't a mustache-twirling villain; their history of being underestimated and betrayed by the system is critical. That smile isn't just about enjoying chaos. It's a specific, calculated signal—a release valve for years of swallowed frustration finally turning into a quiet, cold confidence. They're not just 'evil' now; they've accepted the role the world forced on them, and the smile is them wearing that mask with a bitter sort of pride. It's less 'I enjoy your pain' and more 'You built this monster, and now you get to meet it.' That distinction changes everything about their later choices, especially in the third act where they have a chance for pure revenge but hesitate. The smile foreshadows that internal conflict between the persona they're projecting and the damaged person underneath.

Honestly, the most telling detail is who receives the smile. It's almost never directed at genuine innocents; it's reserved for authority figures, former allies who sold them out, or rivals who operate on a false moral high ground. It's a weapon of psychological warfare, meant to unnerve and confuse. The character knows a furious scream would give their opponents a clear target, but an enigmatic, calm smile leaves them scrambling. It reveals a motive rooted in control—reclaiming narrative power in a story that has constantly tried to write them as the loser.

Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status