Pemilik Kitab Seribu Bayangan
Aroma kuno menyergap, campuran antara dupa tua, kayu lapuk, dan kematian.
Ruangan di balik pintu itu sempit, berbentuk lingkaran. Di tengahnya berdiri sebuah altar batu yang kokoh, dihiasi pahatan perak yang berkilau meski tak ada cahaya. Dan di atasnya—sebuah buku hitam besar, bersampul logam yang memantulkan kilat pucat dari liontin Mei Lin.
“Kitab Seribu Bayangan, atau setidaknya, salah satu pecahannya,” bisiknya.
Hot Chapters