SENTUHAN YANG SALAH
“Dengar, Anya. Di sini, cara pandang orang tentang ‘pakaian kerja’ berbeda. Kalau lu mau bayaran yang cukup untuk rumah sakit Arka, lu harus berhenti berpikir sebagai desainer idealis dan mulai berpikir sebagai aset. Pak Tama tidak membayar sekretaris untuk merapikan dokumen saja. Dia membayar untuk estetika.”
Anya menunduk. Kata aset terasa seperti tamparan keras. Ia merasa harga dirinya perlahan luruh, digantikan oleh rasa putus asa yang kian pekat. Ia teringat wajah Arka, adiknya yang pucat di ranjang rumah sakit, yang selalu tersenyum meski menahan sakit. Bayangan itu cukup untuk membuat Anya menelan ludah, menekan ego dan rasa malunya jauh ke lubang terdalam di dadanya.