Merajut Asa
tertawalah pada bocah lelaki kikuk yang mencintaimu ini
namun ketika aku membuka dan memejamkan mata
ketika langkahku maju, ketika langkahku surut
ambil semua makanan, udara, cahaya, musim semi,
tapi jangan pernah ambil tawamu
karena aku akan binasa.
Dada Jovita bergemuruh usai membaca untaian kalimat indah sarat makna implisit itu. Dipandanginya Joseph yang masih membenamkan diri dalam pekerjaan. Sebuah pertanyaan hadir di kepalanya. Tawa siapakah yang sekiranya begitu berarti bagi hidup Joseph?
-----
¹Foyer: ruang peralihan antara teras dan ruang tamu/keluarga.